Aku duduk memandangi barisan pohon singkong yang kurang subur. Dengan daun-daun yang menguning dan batang-batang kering yangbelum rontok, mereka seperti menyanyi memanggil hujan. Memintaharapan kehidupan mereka diperpanjang. Begitu pun dengan rumput-rumput disekelilingnya, kekeringan sepertinya menyiksa mereka. Akumulai menyadari apa yang mereka rasakan, sampai awan mendungmemayungi diriku, udara terasa bertambah dingin dan sejuk, hembusanangin pun bertambah kencang. Bahagia rasanya mengetahui bahwahari itu akan hujan, dan pohon-pohon itu sepertinya melemparkansenyuman untuk harapan hidup mereka yang bertambah.
Tetapi dia tak kunjung datang, seperti kekasih yang kau nantikantahun demi tahun. Sakit rasanya ketika harapan tak terkabul.Aku hanya bisa gigit jari dan berharap kembali. Maklum kala itu akuberada di sebuah desa yang bernama desa candi, di wilayah WonosariGunung Kidul. Daerah yang penuh mistik dan rahasia-rahasia yangbelum semua terungkap. Wilayah yang terkenal pula dengan bencana kekeringannya.
Tetes demi tetes mengalir , tetapi bukan dari langit yang mendung itu,aku tahu mereka hanya lewat dan memalingkan muka. Tetes-tetes tersebut mengalir dari keluarga kakak ibuku. Mereka menangisikepergiannya. Walau pun Pak De ku hanyalah seorang kampung yanglugu, tapi keluarganya mencintai dia. Dia adalah orang yang punyapendirian kuat, tak ada yang bisa menggoyangkan dia, termasuk istridan saudara-saudara kandungnya. Makanya aku tak heran kalau akujuga punya sifat keras kepala seperti itu.
Aku tidak pernah mengenal sangat dekat dengan Dia. Obrolan kamitidak pernah menembus wilayah hati. Mungkin karena watak kami yang sama-sama keras kepala, sehingga sulit untuk bercerita lebih dalam.Tapi kala itu yang terlintas di pikiranku. Mengapa obrolan kami kebanyakan hanya berlangsung sepanjang jalan setapak ini. Aku tak tahu alasannya.Tapi itulah satu-satunya kenangan yang dia berikan kepadaku. Sebuah jalansetapak.
Pak de adalah seorang laki-laki yang memimpin keluarga nenekku semenjakkakek ku meninggal. Dia pula yang bertindak sebagai ganti ayah untukadik-adiknya. Karena itu adik-adiknya sangat menyayanginya. Terbuktidari suara tangisan dan tetesan air hujan lokal yang tak kunjung padam.Sebagai seseorang yang dituakan, dialah yang ditunjuk sebagai juru kunci ketika aku nyekar* kuburan nenekku. Dialah yang memimpinkuuntuk proses ritual tersebut. Di situlah kami sering mengobrol. Di sepanjangjalan setapak antara rumah nenekku dengan kuburan desa. Walaupunobrolan kami terasa dangkal, hanya basa basi saling menanyakan kabar.Tapi berulang-ulang kejadian itu terjadi. Obrolan-obrolan yang hanya berkisarpertanyaan tentang keadaan kakak-kakak ku dan perhatian-perhatian seorang Pak De terhadap keponakannya.
Aku tidak bisa menangis di kala kematian nya, bukan karena aku dingin , cuek ataukarena aku seorang laki-laki. Akan tetapi karena tangisan itu berada di dalam,tersembunyi rapat, dan sulit untuk dikuak. Aku menangis di dalam hati karenaaku tak pernah bisa benar-benar dekat dengan Dia. Mengapa kenanganitu hanyalah disepanjang jalan setapak, tidak di jalan yang lain, atau sungai-sungai yang kering, sesalku. Mengapa nasib hanya memperkenalkan aku dengan diasebatas hubungan yang dangkal, sehingga hingga saat ini aku tak pernahmengerti benar apa yang ada di dalam pikirannya. Andai saja ada lagi suatu kesempatan untuk lebih mengenalnya pikirku.
Walau pun sangat singkat dan tidak pernah lebih dari sekedar obrolan biasa, aku masih bisa merasakan dan mendengarkan kata-kata nya, seperti baru kemarinsaja itu terjadi.
*nyekar adalah budaya jawa untuk menghormati leluhur dengan mengirim doa-doa, menyan dan bunga ke kuburan sang almarhum.
Sabtu, Julai 23, 2005
Rabu, Julai 20, 2005
hidup punya alasan sendiri
'sedikit berpuisi, boleh dong!'
Berhentilah mengeluh, karena keluhan hanya melemahkan.
Sadarilah bahwa kemenangan atau kekalahan hanya sementara.
Nyatakanlah bahwa engkau mencintai setiap sisi kehidupan.
Maka kesepian akan pergi, bagai debu-debu yang tersapu lembut
oleh angin.
Senandung burung, wangi bunga, hiruk pikuk adalah keceriaan.
Carilah mereka ketika engkau sendu. Janganlah berhayal lagi
tentang kebahagiaan, akan tetapi tanamlah benihnya di dalam
hati mu. Kebencian dan dengki usirlah dengan benar. Maka
penderitaan terbesarmu akan berakhir.
Janganlah engkau takut akan kematian, karena engkau
diwariskan keabadian. Janganlah engkau takut untuk
berkorban, karena sesungguhnya tidak ada apa pun yang
engkau miliki. Janganlah engkau menghitung untung atau rugi
Karena sesungguhnya tak pernah ada penambahan dan
pengurangan.
Sudah lepaskan semua,
karena hidup punya alasan sendiri.
Berhentilah mengeluh, karena keluhan hanya melemahkan.
Sadarilah bahwa kemenangan atau kekalahan hanya sementara.
Nyatakanlah bahwa engkau mencintai setiap sisi kehidupan.
Maka kesepian akan pergi, bagai debu-debu yang tersapu lembut
oleh angin.
Senandung burung, wangi bunga, hiruk pikuk adalah keceriaan.
Carilah mereka ketika engkau sendu. Janganlah berhayal lagi
tentang kebahagiaan, akan tetapi tanamlah benihnya di dalam
hati mu. Kebencian dan dengki usirlah dengan benar. Maka
penderitaan terbesarmu akan berakhir.
Janganlah engkau takut akan kematian, karena engkau
diwariskan keabadian. Janganlah engkau takut untuk
berkorban, karena sesungguhnya tidak ada apa pun yang
engkau miliki. Janganlah engkau menghitung untung atau rugi
Karena sesungguhnya tak pernah ada penambahan dan
pengurangan.
Sudah lepaskan semua,
karena hidup punya alasan sendiri.
Rabu, Mac 30, 2005
Revolusi Diri, Revolusi Sosial
Negara indonesia adalah negara yang kaya raya dengan potensi alamnya yang bermacam-macam. Mulai dari A sampai Z, tersedia di alam Indonesia. Ironisnya tetap saja bangsa ini menjadi bangsa yang terjajah secara ekonomi, dan masyarakatnya tetap saja mayoritas adalah masyarakat yang bodoh.
Keadaan sosial di Indonesia sudah mendekati keadaan yang sangat parah tidak tertolong. Ditambah lagi kebijakan pemerintah yang selalu memberatkan semut-semut pekerja, sepertinya menambah sulit saja problema-problema hidup pada umumnya. Hanya sebagian kecil saja semut-semut yang beruntung yang dapat melepaskan diri dari tekanan-tekanan ekonomi dan sosial. Apalagi bencana-bencana alam yang sudah mulai berdatangan menambah lagi kerisauan dan ketakutan di kalangan masyarakat. Penyakit-penyakit yang muncul kembali menjadi wabah, tingkat kriminalitas yang meningkat, sepertinya memberikan nilai tambah terhadap tingkat kerusakan sistem sosial yang ada di negara ini.
Sistem sosial di negara ini adalah sistem sosial yang jika kita pertimbangkan dengan akal sehat adalah sistem yang terbaik dibandingkan dengan sistem-sistem yang ada di negara lain. Bayangkan saja tentang ide keadilan sosial yang merata untuk seluruh rakyat Indonesia, tentang kontrol negara atas sumber-sumber daya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak. Bukankah itu sistem yang sempurna? Sayangnya pada saat itu pendiri bangsa ini terlalu yakin dengan sistem yang mereka buat. Pada zaman itu mereka tidak memikirkan kelangsungan umur sistem ini dan terlena dengan kesempurnaan sistem tersebut. Mereka lupa bahwa selama masih ada di bawah langit, semuanya bersifat relatif. Tidak pernah ada yang dapat menjadi sempurna selama berada di bawah langit. Ide-ide yang mereka kemukakan adalah ide-ide yang luhur. Penuh dengan nilai-nilai positif yang membangun dan sepertinya pasti akan membawa pertumbuhan yang positif terhadap keadaan sosial masyarakat negara ini. Nyatanya apa yang disimulasikan di otak selalu tidak sesuai dengan kenyataan. Maklum, manusia memang belum dapat membuat simulasi tentang kehidupan sosial di suatu tempat pada situasi dan kondisi tertentu. Karena hal itu sangatlah kompleks di luar dari jangkauan daya pikir manusia pada umumnya. Hanya beberapa orang jenius saja, yang mungkin jumlahnya pun masih dapat dihitung dengan jari, dapat memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada kondisi sosial seperti di negara ini.Akan tetapi kita sebagai rakyat tidak dapat menyalahkan pendahulu-pendahulu yang telah membuat kesalahan. Tentunya mengatur negara tidak akan semudah omong kosong belaka yang tidak pernah membentur suatu kenyataan. Hanya ide-ide yang tertampung dalam batas suatu individu tidak dapat menyelesaikan suatu permasalahan yang pelik yang menyangkut keterikatan hubungan antara satu dengan yang lain.
Lantas, adakah suatu solusi yang benar-benar jitu untuk menghapuskan kemiskinan? Mungkin ada, mungkin juga tidak. Akan tetapi usaha mereka dengan melakukan “try and error” terhadap suatu sistem negara kemungkinan dapat membawa bangsa ini kepada sistem yang lebih sesuai dengan keadaan sosial negara ini. Di sini ditekankan kata “sesuai” bukan “sempurna” mengingat ide tentang kesempurnaan sangatlah sulit untuk dicapai. Suatu solusi jitu bukanlah suatu impian. Jawaban-jawaban yang dapat diterima sebagai solusi jitu sebenarnya telah ada dan diturunkan dari generasi ke generasi. Akan tetapi kurangnya pembelajaran terhadap solusi-solusi jitu membawa kembali terulangnya sejarah yang dialami oleh nenek moyang. Kebijaksanaan – kebijaksanaan yang luhur telah dilupakan. Prinsip – prinsip moralitas yang mendasar telah ditinggalkan dan eforia terhadap keberhasilan dalam satu sisi menenggelamkan kegagalan-kegagalan dalam sisi yang lebih penting.
Sebenarnya suatu sistem sosial dapat dianalogikan dengan sistem komputer yang terbatas. Hanya saja sistem komputer memiliki tingkat kompleksitas yang lebih sederhana dibandingkan dengan sistem sosial. Sistem komputer terbagi menjadi beberapa sub-sistem yang memiliki fungsi masing-masing. Setiap sub-sistem memiliki tanggung jawab masing-masing terhadap suatu resource yang terbatas, dan resource-resource yang terbatas tersebut harus dapat dikelola dengan baik agar program-program yang berjalan di atas sistem dapat berkerja dengan lancar tanpa gangguan. Tetapi nyatanya di dalam tingkat kompleksitas yang lebih sederhana itu pun, sistem yang dibuat pun tidak dapat benar-benar handal menangani resource yang terbatas. Macam-macam jenis komponen yang beraneka ragam dan macam-macam program yang berjalan di atas sistem tersebut mengakibatkan banyaknya kondisi-kondisi khusus yang harus ditangani. Di tambah lagi program-program yang merusak sistem seperti virus, worm, dan trojan menambah kesulitan di dalam membuat sistem yang benar-benar handal. Begitu pun di dalam sistem sosial. Virus-virus sosial yang beredar di dalam sistem dengan mudah berpindah dari satu sisi ke sisi lain. Bahkan virus – virus sosial lebih hebat dibandingkan dengan virus – virus komputer karena mampu berevolusi mengikuti perubahan-perubahan sistem dan mewariskan hasil evolusi tersebut kepada generasi berikutnya. Melihat hal tersebut mungkin tidak ada lagi jalan untuk membenahi sistem sosial yang ada, tetapi dengan melihat analogi sistem komputer, ada suatu solusi yang berkerja dengan baik apabila mengalami kebuntuan jalan untuk menghapuskan virus-virus sosial, yaitu “format and install new system”. Metode ini telah dijalankan berkali-kali di mana pun juga ketika terjadi kebuntuan. Hasilnya pun dapat dikatakan cukup berhasil sampai dengan periode tertentu timbul lagi virus-virus sosial yang baru dengan kemampuan yang lebih hebat dari generasi sebelumnya. Memang siklus seperti ini selalu berulang. Lahir suatu sistem baru, kemudian timbul virus – virus baru, buat sub-sistem penanggulangan virus, virus bertambah banyak, sub-sistem gagal dengan fungsinya, sistem utama rusak, hapuskan sistem utama, kembali lagi ke fase awal. Dengan mempertimbangkan keadaan-keadaan sosial di negara ini, sepertinya metode di atas tidak dapat dihindarkan lagi. Suatu saat, akan muncul gaya-gaya normal yang melawan tekanan-tekanan sosial kemudian menghancurkan sistem sosial dan virus-virusnya. Siklus berulang lagi, sampai pada kebuntuan terjadi lagi dan seterusnya.
Metode di atas adalah pembuangan waktu, namun pada kalanya suatu sistem apa pun juga akan mengalami kehancuran dan digantikan dengan sistem yang baru. Karena itu pembentukan sistem yang lebih baik yang dapat bertahan lama, dapat mengurangi pembuangan waktu yang berlebihan. Untuk menjaga suatu sistem berjalan lama, perlu dibuatkan sub-sistem yang melindungi sistem tersebut. Sub-sistem tersebut hendaklah suatu sub-sistem yang juga dapat berevolusi dengan sendirinya seperti virus-virus sosial. Sehingga selama sub-sistem tersebut dapat mengikuti perkembangan virus-virus sosial yang ada, maka umur sistem utama akan bertambah panjang. Virus-virus sosial memang agak sulit untuk dideskripsikan karena begitu banyak varian-nya yang telah beredar. Tetapi dapat ditelusuri bahwa virus sosial timbul akibat sifat toleransi masyarakat terhadap hal-hal kecil yang tidak mengindahkan nilai-nilai luhur. Sebagai contoh adalah nilai yang memaklumi keserakahan. Keserakahan adalah hal sepele yang selalu saja dimaklumi oleh masyarakat sampai suatu saat adalah suatu trend yang diminati oleh masyarakat mana pun juga. Ketika menjadi trend bahwa keserakahan bukanlah kejahatan, maka dapat disimpulkan bahwa virus sosial telah tersebar dengan sangat baik dan merata. Di mana-mana masyarakat akan meng-agungkan keserakahan sebagai suatu pencapaian yang mulia. Akan tetapi perlombaan tersebut hanya akan membawa dampak ketidakseimbangan pada suatu sistem karena suatu sistem hanya memiliki sedikit resource yang terbatas. Resource tersebut akan bergeser dari satu sub-sistem kepada sub-sistem yang lebih serakah. Selanjutnya hukum 80/20 akan terbentuk kembali di mana 20% virus sosial akan menguasai 80% resource yang ada. Dan 80% non-virus akan memperebutkan 20% resource. Kekurangan akan terbentuk di 80% wilayah sistem, dan tinggal menunggu bom waktu meledak, maka sistem akan rusak. Memang hukum 80/20 tidak pernah dapat dihindari. Akan tetapi apabila 20% bagian tersebut tidak menjadi virus sosial, maka pengembalian resource kepada 80% lainnya akan membawa dampak pemerataan kesejahteraan. Mungkin tidak benar-benar merata, akan tetapi hukum 80/20 akan bergeser menjadi 60/40 bukannya menjadi 90/10 yang saat sekarang ini terjadi dan sedang menuju hukum 99/1. Karena itu revolusi memang sangat perlu dilakukan untuk menggeser kembali perbandingan 90/10 menuju 65/45. Pastinya akan sangat menyakitkan bagi 10% wilayah sistem ketika dipaksa oleh 90% wilayah sistem untuk mengembalikan 90% resource yang mereka kuasai. Akan tetapi menurut akal sehat akan lebih mudah, merombak 10% wilayah sistem demi 90% wilayah sistem yang telah dirusaknya. Ketimbang memperbaiki 90% wilayah sistem yang telah rusak.Tentunya akan lebih baik lagi apabila dapat dibuat kesepakatan ulang antara 90% wilayah sistem dan 10% wilayah sistem yang kembali menyeimbangkan penggunaan resource sistem dan dibentuk suatu sub-sistem yang menjaga keseimbangan tersebut.
Di samping itu masih banyak lagi bentuk virus sosial yang beredar. Mengenai cara penanggulangan nya adalah relatif terhadap situasi dan kondisi tertentu. Setidaknya prinsip dasar yang harus dipahami adalah menjaga keseimbangan, baik keseimbangan alam, keseimbangan sosial dan keseimbangan diri sendiri. Sebagai prioritas yang paling penting adalah menjaga keseimbangan diri sendiri yang berdampak terhadap keseimbangan sosial dan kemudian berdampak lagi terhadap keseimbangan alam. Manusia moderen tentunya akan mengerti tentang prinsip di mana diri nya memberikan pengaruh kepada masyarakat walau pun kecil. Sehingga dengan sadar menjaga dirinya dari pengaruh-pengaruh yang menyebabkan ketidakseimbangan dirinya.Karena itu sudah tentu revolusi diri sangat penting untuk mencegah terjadinya revolusi sosial. Sehingga setiap tindakan dari berbagai individu tidak akan terlalu mempengaruhi keseimbangan sosial. Setidaknya dunia akan lebih baik jika dihuni oleh orang-orang bijak. Orang-orang yang selalu waspada terhadap dampak perbuatannya. “Barang siapa menanam padi, maka akan menuai beras. Barang siapa menanam mawar, maka akan menuai duri.” Tetapi lucunya kadangkala terjadi “Barang siapa menanam padi maka akan menuai batang padi, orang lain mencuri berasnya. Barang siapa menanam mawar, maka menuai bunga, orang lain durinya.”
Keadaan sosial di Indonesia sudah mendekati keadaan yang sangat parah tidak tertolong. Ditambah lagi kebijakan pemerintah yang selalu memberatkan semut-semut pekerja, sepertinya menambah sulit saja problema-problema hidup pada umumnya. Hanya sebagian kecil saja semut-semut yang beruntung yang dapat melepaskan diri dari tekanan-tekanan ekonomi dan sosial. Apalagi bencana-bencana alam yang sudah mulai berdatangan menambah lagi kerisauan dan ketakutan di kalangan masyarakat. Penyakit-penyakit yang muncul kembali menjadi wabah, tingkat kriminalitas yang meningkat, sepertinya memberikan nilai tambah terhadap tingkat kerusakan sistem sosial yang ada di negara ini.
Sistem sosial di negara ini adalah sistem sosial yang jika kita pertimbangkan dengan akal sehat adalah sistem yang terbaik dibandingkan dengan sistem-sistem yang ada di negara lain. Bayangkan saja tentang ide keadilan sosial yang merata untuk seluruh rakyat Indonesia, tentang kontrol negara atas sumber-sumber daya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak. Bukankah itu sistem yang sempurna? Sayangnya pada saat itu pendiri bangsa ini terlalu yakin dengan sistem yang mereka buat. Pada zaman itu mereka tidak memikirkan kelangsungan umur sistem ini dan terlena dengan kesempurnaan sistem tersebut. Mereka lupa bahwa selama masih ada di bawah langit, semuanya bersifat relatif. Tidak pernah ada yang dapat menjadi sempurna selama berada di bawah langit. Ide-ide yang mereka kemukakan adalah ide-ide yang luhur. Penuh dengan nilai-nilai positif yang membangun dan sepertinya pasti akan membawa pertumbuhan yang positif terhadap keadaan sosial masyarakat negara ini. Nyatanya apa yang disimulasikan di otak selalu tidak sesuai dengan kenyataan. Maklum, manusia memang belum dapat membuat simulasi tentang kehidupan sosial di suatu tempat pada situasi dan kondisi tertentu. Karena hal itu sangatlah kompleks di luar dari jangkauan daya pikir manusia pada umumnya. Hanya beberapa orang jenius saja, yang mungkin jumlahnya pun masih dapat dihitung dengan jari, dapat memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada kondisi sosial seperti di negara ini.Akan tetapi kita sebagai rakyat tidak dapat menyalahkan pendahulu-pendahulu yang telah membuat kesalahan. Tentunya mengatur negara tidak akan semudah omong kosong belaka yang tidak pernah membentur suatu kenyataan. Hanya ide-ide yang tertampung dalam batas suatu individu tidak dapat menyelesaikan suatu permasalahan yang pelik yang menyangkut keterikatan hubungan antara satu dengan yang lain.
Lantas, adakah suatu solusi yang benar-benar jitu untuk menghapuskan kemiskinan? Mungkin ada, mungkin juga tidak. Akan tetapi usaha mereka dengan melakukan “try and error” terhadap suatu sistem negara kemungkinan dapat membawa bangsa ini kepada sistem yang lebih sesuai dengan keadaan sosial negara ini. Di sini ditekankan kata “sesuai” bukan “sempurna” mengingat ide tentang kesempurnaan sangatlah sulit untuk dicapai. Suatu solusi jitu bukanlah suatu impian. Jawaban-jawaban yang dapat diterima sebagai solusi jitu sebenarnya telah ada dan diturunkan dari generasi ke generasi. Akan tetapi kurangnya pembelajaran terhadap solusi-solusi jitu membawa kembali terulangnya sejarah yang dialami oleh nenek moyang. Kebijaksanaan – kebijaksanaan yang luhur telah dilupakan. Prinsip – prinsip moralitas yang mendasar telah ditinggalkan dan eforia terhadap keberhasilan dalam satu sisi menenggelamkan kegagalan-kegagalan dalam sisi yang lebih penting.
Sebenarnya suatu sistem sosial dapat dianalogikan dengan sistem komputer yang terbatas. Hanya saja sistem komputer memiliki tingkat kompleksitas yang lebih sederhana dibandingkan dengan sistem sosial. Sistem komputer terbagi menjadi beberapa sub-sistem yang memiliki fungsi masing-masing. Setiap sub-sistem memiliki tanggung jawab masing-masing terhadap suatu resource yang terbatas, dan resource-resource yang terbatas tersebut harus dapat dikelola dengan baik agar program-program yang berjalan di atas sistem dapat berkerja dengan lancar tanpa gangguan. Tetapi nyatanya di dalam tingkat kompleksitas yang lebih sederhana itu pun, sistem yang dibuat pun tidak dapat benar-benar handal menangani resource yang terbatas. Macam-macam jenis komponen yang beraneka ragam dan macam-macam program yang berjalan di atas sistem tersebut mengakibatkan banyaknya kondisi-kondisi khusus yang harus ditangani. Di tambah lagi program-program yang merusak sistem seperti virus, worm, dan trojan menambah kesulitan di dalam membuat sistem yang benar-benar handal. Begitu pun di dalam sistem sosial. Virus-virus sosial yang beredar di dalam sistem dengan mudah berpindah dari satu sisi ke sisi lain. Bahkan virus – virus sosial lebih hebat dibandingkan dengan virus – virus komputer karena mampu berevolusi mengikuti perubahan-perubahan sistem dan mewariskan hasil evolusi tersebut kepada generasi berikutnya. Melihat hal tersebut mungkin tidak ada lagi jalan untuk membenahi sistem sosial yang ada, tetapi dengan melihat analogi sistem komputer, ada suatu solusi yang berkerja dengan baik apabila mengalami kebuntuan jalan untuk menghapuskan virus-virus sosial, yaitu “format and install new system”. Metode ini telah dijalankan berkali-kali di mana pun juga ketika terjadi kebuntuan. Hasilnya pun dapat dikatakan cukup berhasil sampai dengan periode tertentu timbul lagi virus-virus sosial yang baru dengan kemampuan yang lebih hebat dari generasi sebelumnya. Memang siklus seperti ini selalu berulang. Lahir suatu sistem baru, kemudian timbul virus – virus baru, buat sub-sistem penanggulangan virus, virus bertambah banyak, sub-sistem gagal dengan fungsinya, sistem utama rusak, hapuskan sistem utama, kembali lagi ke fase awal. Dengan mempertimbangkan keadaan-keadaan sosial di negara ini, sepertinya metode di atas tidak dapat dihindarkan lagi. Suatu saat, akan muncul gaya-gaya normal yang melawan tekanan-tekanan sosial kemudian menghancurkan sistem sosial dan virus-virusnya. Siklus berulang lagi, sampai pada kebuntuan terjadi lagi dan seterusnya.
Metode di atas adalah pembuangan waktu, namun pada kalanya suatu sistem apa pun juga akan mengalami kehancuran dan digantikan dengan sistem yang baru. Karena itu pembentukan sistem yang lebih baik yang dapat bertahan lama, dapat mengurangi pembuangan waktu yang berlebihan. Untuk menjaga suatu sistem berjalan lama, perlu dibuatkan sub-sistem yang melindungi sistem tersebut. Sub-sistem tersebut hendaklah suatu sub-sistem yang juga dapat berevolusi dengan sendirinya seperti virus-virus sosial. Sehingga selama sub-sistem tersebut dapat mengikuti perkembangan virus-virus sosial yang ada, maka umur sistem utama akan bertambah panjang. Virus-virus sosial memang agak sulit untuk dideskripsikan karena begitu banyak varian-nya yang telah beredar. Tetapi dapat ditelusuri bahwa virus sosial timbul akibat sifat toleransi masyarakat terhadap hal-hal kecil yang tidak mengindahkan nilai-nilai luhur. Sebagai contoh adalah nilai yang memaklumi keserakahan. Keserakahan adalah hal sepele yang selalu saja dimaklumi oleh masyarakat sampai suatu saat adalah suatu trend yang diminati oleh masyarakat mana pun juga. Ketika menjadi trend bahwa keserakahan bukanlah kejahatan, maka dapat disimpulkan bahwa virus sosial telah tersebar dengan sangat baik dan merata. Di mana-mana masyarakat akan meng-agungkan keserakahan sebagai suatu pencapaian yang mulia. Akan tetapi perlombaan tersebut hanya akan membawa dampak ketidakseimbangan pada suatu sistem karena suatu sistem hanya memiliki sedikit resource yang terbatas. Resource tersebut akan bergeser dari satu sub-sistem kepada sub-sistem yang lebih serakah. Selanjutnya hukum 80/20 akan terbentuk kembali di mana 20% virus sosial akan menguasai 80% resource yang ada. Dan 80% non-virus akan memperebutkan 20% resource. Kekurangan akan terbentuk di 80% wilayah sistem, dan tinggal menunggu bom waktu meledak, maka sistem akan rusak. Memang hukum 80/20 tidak pernah dapat dihindari. Akan tetapi apabila 20% bagian tersebut tidak menjadi virus sosial, maka pengembalian resource kepada 80% lainnya akan membawa dampak pemerataan kesejahteraan. Mungkin tidak benar-benar merata, akan tetapi hukum 80/20 akan bergeser menjadi 60/40 bukannya menjadi 90/10 yang saat sekarang ini terjadi dan sedang menuju hukum 99/1. Karena itu revolusi memang sangat perlu dilakukan untuk menggeser kembali perbandingan 90/10 menuju 65/45. Pastinya akan sangat menyakitkan bagi 10% wilayah sistem ketika dipaksa oleh 90% wilayah sistem untuk mengembalikan 90% resource yang mereka kuasai. Akan tetapi menurut akal sehat akan lebih mudah, merombak 10% wilayah sistem demi 90% wilayah sistem yang telah dirusaknya. Ketimbang memperbaiki 90% wilayah sistem yang telah rusak.Tentunya akan lebih baik lagi apabila dapat dibuat kesepakatan ulang antara 90% wilayah sistem dan 10% wilayah sistem yang kembali menyeimbangkan penggunaan resource sistem dan dibentuk suatu sub-sistem yang menjaga keseimbangan tersebut.
Di samping itu masih banyak lagi bentuk virus sosial yang beredar. Mengenai cara penanggulangan nya adalah relatif terhadap situasi dan kondisi tertentu. Setidaknya prinsip dasar yang harus dipahami adalah menjaga keseimbangan, baik keseimbangan alam, keseimbangan sosial dan keseimbangan diri sendiri. Sebagai prioritas yang paling penting adalah menjaga keseimbangan diri sendiri yang berdampak terhadap keseimbangan sosial dan kemudian berdampak lagi terhadap keseimbangan alam. Manusia moderen tentunya akan mengerti tentang prinsip di mana diri nya memberikan pengaruh kepada masyarakat walau pun kecil. Sehingga dengan sadar menjaga dirinya dari pengaruh-pengaruh yang menyebabkan ketidakseimbangan dirinya.Karena itu sudah tentu revolusi diri sangat penting untuk mencegah terjadinya revolusi sosial. Sehingga setiap tindakan dari berbagai individu tidak akan terlalu mempengaruhi keseimbangan sosial. Setidaknya dunia akan lebih baik jika dihuni oleh orang-orang bijak. Orang-orang yang selalu waspada terhadap dampak perbuatannya. “Barang siapa menanam padi, maka akan menuai beras. Barang siapa menanam mawar, maka akan menuai duri.” Tetapi lucunya kadangkala terjadi “Barang siapa menanam padi maka akan menuai batang padi, orang lain mencuri berasnya. Barang siapa menanam mawar, maka menuai bunga, orang lain durinya.”
Isnin, Mac 14, 2005
Kisah Aki Zaki dan Udin
Suatu malam sekitar pukul 1 pagi dini hari. Aki Zaki sedang asyik nongkrong di warung dekat rumahnya sambil menikmati satu batang filter plus kopi ABC susu. Aki Zaki adalah orang yang lugu, miskin dan sepanjang hidupnya hanya mempunyai satu masalah yang krusial, masalah ekonomi. Sebenarnya umur Aki Zaki tidak terlalu tua, panggilan “Aki” sudah dimakluminya sejak umur kira-kira 18 tahun karena perawakan badannya yang kurus, tinggi dan agak bungkuk. Umur sebenarnya kira-kira hanya empat puluhan. Tapi sebenarnya tidak ada yang tahu persis umur Aki Zaki sesungguhnya. Soalnya orang tuanya adalah orang kampung yang sangat ngampung sampai-sampai kelahiran anaknya hanya diukur dengan patokan pohon mangga di depan rumah.
Ada satu perubahan sejak bulan kemarin pada diri Aki Zaki. Kerut-kerut di pipi aki Zaki belakangan ini terlihat bertambah. Maklum keputusan pemerintah menaikan harga BBM, rupanya memiliki dampak yang cepat dia rasakan sekarang ini. Dia kesal sekali dengan keputusan tersebut.
“harga BBM langsung naek, tapi kok sekolah kagak langsung gratis. Udeh gitu kalo gue ke puskesmas juga belum gratis. Pan gue sakit juga jarang-jarang” pikirnya.
“Bego kali ya pemerintah? Gue itung-itung ongkos gue yang tadinye cukup 5000 sehari, sekarang naek jadi 7000 rupiah sehari. 2000 gue kali 25, jadi 50000 dong naeknya sebulan. Trus, anak gue yang paling kecil masih aja tuh bayar sekolah. Sayuran juga naek, beras naek, eh, katanya listrik mau naek lagi. Waduh bisa berabe gue. Ah , bo’ong aje tuh iklan-iklan di tipi. Ngepet. Biar kagak sekolahan gini, gue juga tahu kalo dibo’ongin” Pikirnya lagi.
“Setress! Setress!…” Aki berteriak sendirian.
“Ada apa Ki?” tanya Nur si tukang warung.
“kagak napa nur. Gue cume puyeng aja gimane tetep bisa ngidupin keluarga gue”
kemudian samar-samar dari jauh, terlihat bayangan anak muda sedang berjalan ke arahnya.
“Siapa ye, pagi buta gini baru balik. Tapi gue liat mirip banget ama anak gue Udin.” Pikirnya.
Anak muda tersebut makin dekat dan benar itu si udin anak Aki yang ke empat.
“Eh, udin, ngapain aja lo jam segini baru balik? Dasar anak kagak tauk diri!”
“Abis demo soal ‘ambalat’ Be. Anak babe ini kan nasionalis kaya almarhum Bung Karno.”
“Alaah elo ngeluyur terus, mendingan lo cari obyekan buat biaya sekolah adek-adek loe. Emang lo tauk apa yang elo demoin?”
“Tauk dong Be, udin kan udeh pinter be. Yang namenye ada orang ngerebut pekarangan kite, mesti kite tampol Be.”
“Tompal - tampol , tompal – tampol. Sok jagoan lo.”
“Yeeee Babe, yang namenye prinsip dan kedaulatan harus kita jaga be. Masa kite diem aja.”
“Iye , babe ngerti. Kalo rumah babe diambil orang, babe juga belain mati-matian.”
“Nah gitu dong be, kite harus nasionalis.”
“Kalo masih jamannya Bung Karno, babe mau deh nasionalis. Tapi hari gini loe masih nasionalis? Katanya loe anak sekolahan?”
“Ah babe, kagak ngerti jiwa muda. Jiwa membela bangsa. Jiwa yang tulus.”
“Lah elo lagak-lagaknya ngajarin gue, emang gue gak pernah mude ape.”
“Iye , iye be. Tapi gini be, menurut informasi yang aye denger, perairan ambalat itu mengandung cadangan minyak yang bisa nyukupin kite 30 taon ke depan. Makanya demi kesejahteraan bangsa ini, kite kudu jagain tuh perairan ambalat.”
“Walah , gue mah gak peduli 30 taon kek, 20 taon kek. Loe liat kan harga BBM tetep aja naek. Yang penting buet gue nih. Elo, adek-adek loe dan emak loe bisa makan. Kalo kate kakek loe dulu, yang penting dapur bisa ngebul tiap ari. Kalo pemerintah janji bakal nurunin harga BBM buat kesejahteraan kite, gue mah setuju aje elo ikut demo, toh babe loe kagak jadi puyeng kayak gini. Tapi din, loe liat aje ntar kalo menang, ape pemerintah bakal mikirin kite-kite yang miskin ini?”
“Iye juga be. tapi katanye keputusan pemerinte kan buat 10 sampe 30 taon ke depan, mana mungkin bisa dirasain sekarang-sekarang.”
Suasana hening sebentar.
“Coba din, gue punya atu pertanyaan.”
“apa be?”
“presiden dipilih tiap berape taon din?”
“lima taon be.”
“trus berarti dalam 30 taon ke depan barapa kali ganti presiden?”
“5 ampe 6 kali be.”
“Trus, sape yang jamin 30 taon ke depan kite bakal sejahtera?”
“Babe kali, hehehe” si udin ketawa ngakak.
“Sialan loe , makin kurang ajar aje jadi anak. Gue kepret lo.” , aki mengangkat tangan kanan nya.
“Be, emang yang namanya ke depan tuh kagak pernah ada jaminannya.”
“nah, lo tauk tuh.”
“Cume, siapa tauk aje, bisa bener-bener terjadi be.”
“Suseh din, suseh, dari dulu, kalo udeh ganti presiden, gantik kebijakan, ganti oli, ganti rugi, ganti macem-macem deh din, termasuk ganti harga, sukur-sukur kalo turun, kalo naek, kapan turunnya din?”
“Yah, tungguin aje 30 taon lagi.”
“Bego lo! 30 taon lagi gue dah jadi tanah kali din. Kan dah gue bilang , buat gue mah nyang penting elo pada cukup makan, bisa sekola, kagak sakit-sakitan.”
“Ya udeh, kalo ga mau nunggu 30 taon lagi, jadi tanah aja sekarang hehehe.” Si udin becanda lagi.
“Sialan lo, malah nyumpahin gue. Udah sono pulang, emak lo dah nungguin tuh.”
“Suseh kalo ngomong ama babe. Kagak pernah tauk nyang namanya prinsip.” Langsung pulang ke rumah.
Ada satu perubahan sejak bulan kemarin pada diri Aki Zaki. Kerut-kerut di pipi aki Zaki belakangan ini terlihat bertambah. Maklum keputusan pemerintah menaikan harga BBM, rupanya memiliki dampak yang cepat dia rasakan sekarang ini. Dia kesal sekali dengan keputusan tersebut.
“harga BBM langsung naek, tapi kok sekolah kagak langsung gratis. Udeh gitu kalo gue ke puskesmas juga belum gratis. Pan gue sakit juga jarang-jarang” pikirnya.
“Bego kali ya pemerintah? Gue itung-itung ongkos gue yang tadinye cukup 5000 sehari, sekarang naek jadi 7000 rupiah sehari. 2000 gue kali 25, jadi 50000 dong naeknya sebulan. Trus, anak gue yang paling kecil masih aja tuh bayar sekolah. Sayuran juga naek, beras naek, eh, katanya listrik mau naek lagi. Waduh bisa berabe gue. Ah , bo’ong aje tuh iklan-iklan di tipi. Ngepet. Biar kagak sekolahan gini, gue juga tahu kalo dibo’ongin” Pikirnya lagi.
“Setress! Setress!…” Aki berteriak sendirian.
“Ada apa Ki?” tanya Nur si tukang warung.
“kagak napa nur. Gue cume puyeng aja gimane tetep bisa ngidupin keluarga gue”
kemudian samar-samar dari jauh, terlihat bayangan anak muda sedang berjalan ke arahnya.
“Siapa ye, pagi buta gini baru balik. Tapi gue liat mirip banget ama anak gue Udin.” Pikirnya.
Anak muda tersebut makin dekat dan benar itu si udin anak Aki yang ke empat.
“Eh, udin, ngapain aja lo jam segini baru balik? Dasar anak kagak tauk diri!”
“Abis demo soal ‘ambalat’ Be. Anak babe ini kan nasionalis kaya almarhum Bung Karno.”
“Alaah elo ngeluyur terus, mendingan lo cari obyekan buat biaya sekolah adek-adek loe. Emang lo tauk apa yang elo demoin?”
“Tauk dong Be, udin kan udeh pinter be. Yang namenye ada orang ngerebut pekarangan kite, mesti kite tampol Be.”
“Tompal - tampol , tompal – tampol. Sok jagoan lo.”
“Yeeee Babe, yang namenye prinsip dan kedaulatan harus kita jaga be. Masa kite diem aja.”
“Iye , babe ngerti. Kalo rumah babe diambil orang, babe juga belain mati-matian.”
“Nah gitu dong be, kite harus nasionalis.”
“Kalo masih jamannya Bung Karno, babe mau deh nasionalis. Tapi hari gini loe masih nasionalis? Katanya loe anak sekolahan?”
“Ah babe, kagak ngerti jiwa muda. Jiwa membela bangsa. Jiwa yang tulus.”
“Lah elo lagak-lagaknya ngajarin gue, emang gue gak pernah mude ape.”
“Iye , iye be. Tapi gini be, menurut informasi yang aye denger, perairan ambalat itu mengandung cadangan minyak yang bisa nyukupin kite 30 taon ke depan. Makanya demi kesejahteraan bangsa ini, kite kudu jagain tuh perairan ambalat.”
“Walah , gue mah gak peduli 30 taon kek, 20 taon kek. Loe liat kan harga BBM tetep aja naek. Yang penting buet gue nih. Elo, adek-adek loe dan emak loe bisa makan. Kalo kate kakek loe dulu, yang penting dapur bisa ngebul tiap ari. Kalo pemerintah janji bakal nurunin harga BBM buat kesejahteraan kite, gue mah setuju aje elo ikut demo, toh babe loe kagak jadi puyeng kayak gini. Tapi din, loe liat aje ntar kalo menang, ape pemerintah bakal mikirin kite-kite yang miskin ini?”
“Iye juga be. tapi katanye keputusan pemerinte kan buat 10 sampe 30 taon ke depan, mana mungkin bisa dirasain sekarang-sekarang.”
Suasana hening sebentar.
“Coba din, gue punya atu pertanyaan.”
“apa be?”
“presiden dipilih tiap berape taon din?”
“lima taon be.”
“trus berarti dalam 30 taon ke depan barapa kali ganti presiden?”
“5 ampe 6 kali be.”
“Trus, sape yang jamin 30 taon ke depan kite bakal sejahtera?”
“Babe kali, hehehe” si udin ketawa ngakak.
“Sialan loe , makin kurang ajar aje jadi anak. Gue kepret lo.” , aki mengangkat tangan kanan nya.
“Be, emang yang namanya ke depan tuh kagak pernah ada jaminannya.”
“nah, lo tauk tuh.”
“Cume, siapa tauk aje, bisa bener-bener terjadi be.”
“Suseh din, suseh, dari dulu, kalo udeh ganti presiden, gantik kebijakan, ganti oli, ganti rugi, ganti macem-macem deh din, termasuk ganti harga, sukur-sukur kalo turun, kalo naek, kapan turunnya din?”
“Yah, tungguin aje 30 taon lagi.”
“Bego lo! 30 taon lagi gue dah jadi tanah kali din. Kan dah gue bilang , buat gue mah nyang penting elo pada cukup makan, bisa sekola, kagak sakit-sakitan.”
“Ya udeh, kalo ga mau nunggu 30 taon lagi, jadi tanah aja sekarang hehehe.” Si udin becanda lagi.
“Sialan lo, malah nyumpahin gue. Udah sono pulang, emak lo dah nungguin tuh.”
“Suseh kalo ngomong ama babe. Kagak pernah tauk nyang namanya prinsip.” Langsung pulang ke rumah.
Sabtu, Mac 12, 2005
Samsul
Di suatu malam yang dingin, hanya ditemani oleh detak jam yang bergema tiap detik. Samsul terlihat sangat pusing sekali. Maklum dia menikah terlalu dini, dan telah mempunyai seorang anak yang musti disuapi tiap hari. Akan tetapi sebenarnya masalah yang dipikirkan bukanlah mengenai istri atau anaknya. Melainkan nomor 2 digit yang akan keluar esok hari.
Samsul sebenarnya cukup beruntung di waktu dia masih memiliki pekerjaan sebagai satpam dengan gaji 1 juta rupiah per bulan. Walau kadang-kadang tidak cukup, tapi dia masih bisa survive menghadapi kejamnya gilasan roda nasib. Akan tetapi pergerakan roda nasib agak terdorong sedikit oleh gaya-gaya yang tidak menguntungkan. Karena suatu kasus, akhirnya dia dipecat dengan tidak hormat dan harus menganggur untuk beberapa bulan. Waktu berlalu cukup cepat, jalan Tuhan akhirnya menghampiri Samsul. Dia diterima di sebuah perusahaan sebagai Satpam dengan gaji yang tidak menguntungkan seperti dulu. Dia hanya mendapatkan sekitar 400 ribu per bulan. Tapi apa boleh buat pikirnya, nasib telah memaksanya untuk tetap bertahan.
Samsul adalah teman kecil saya. Ketika kecil kami sering bermain bersama, mulai dari bermain di sampah kertas sampai dengan duduk-duduk di atas pohon rambutan melakukan obrolan anak kecil yang tidak pernah tahu tentang kenyataan. Sebagai teman, dia cukup baik. Tidak banyak hal yang kami ributkan. Tapi suatu saat kami berdua pernah membuat kasus besar. Kala itu kami membakar sampah kertas sisa industri tempat kami bermain, alhasil apinya menjadi sangat besar dan tidak sempat lagi untuk dimatikan. Api berkobar sangat besar, sungguh menakutkan dan kami berdua hanya bisa bersembunyi di balik rumah mes tempat ayahku dan ayah samsul berkerja. Sebagai anak-anak kecil yang bodoh, kami tidak berani bilang kepada siapa pun yang berada di pabrik tersebut. Kami hanya berani bilang kepada ibu Samsul sambil menunjukan karya kami yang dashyat itu. Untung saja ibu samsul cepat tanggap dan memberi tahu orang-orang sekitar tentang karya kami yang hampir saja memusnahkan industri di mana ayahku dan ayah samsul bergantung. Orang-orang dewasa yang ketika itu sedang berkerja, cepat-cepat menunda pekerjaannya dan kemudian mematikan api dengan gotong royong. Keberuntungan masih berpihak kepada kami. Api dapat dimatikan, aku dan samsul tidak perlu masuk penjara anak-anak karena ulah kami.
Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, akhirnya aku dapat berbincang-bincang lagi dengan dia. Kala itu secara tidak sengaja, setelah menyaksikan pertandingan Barca - Chelsea, aku tidak bisa tidur lagi. Aku putuskan saja untuk ikut ayahku ke tempat dia berkerja. Sungguh hal yang tidak direncanakan dan berjalan secara kebetulan aku harus bertemu Samsul yang dewasa. Di mulailah obrolan kami dengan nostalgia masa kecil. Kisah-kisah petualangan kami ketika anak-anak dan kebodohan-kebodohan kami seperti kebakaran, sekarang hanya menjadi bahan untuk tertawa. Berlanjut terus obrolan kami hingga akhirnya sampai kepada masalah togel. Sebagai anak-anak yang tumbuh bersama, kami memiliki ketertarikan yang sama. Kami tertarik dengan hal-hal yang bertema keberuntungan dan peluang. Karena itulah togel akhirnya menjadi tema obrolan sepanjang hari kami. Samsul mulai menceritakan tentang kehidupannya yang berubah sejak diberhentikan dari pekerjaan nya yang dahulu. Dan dia juga menceritakan bagaimana togel dapat menolong dirinya untuk tetap survive di dalam menahan gilasan roda kehidupan. Mungkin Tuhan juga mengerti kebutuhan samsul. Sehingga dia berikan suatu jalan sementara sebelum sampai pada jalan yang lebih baik. Saya pun juga sependapat dengan samsul jalan baik atau buruk, tetap jalan yang diberikan Tuhan. Selama terpaksa, jalan apapun musti ditempuh sampai akhirnya bertemu jalan yang lebih baik.
Togel pada intinya bukanlah hal yang murni judi. Sebagai orang yang berpendidikan yang telah belajar mengenai peluang pasti memahami fenomena ini. Bahkan melihat pengalaman Samsul di dalam menembus langit keberuntungan dengan togel, saya mulai menganggap bahwa togel adalah suatu bisnis. Mirip seperti pemain saham. Samsul juga dilengkapi dengan panduan-panduan yang cukup lengkap, seperti buku mimpi, prediksi tiap minggu dan data-data terakhir angka yang keluar. Saya menimba ilmu dari samsul bagaimana mengolah data-data tersebut dan berusaha untuk menembus langit keberuntungan togel. Lucu juga sih, memang ilmu tersebut bukan ilmu science, tapi tetap ada kaitannya dengan ilmu statistik dan peluang. Walau pun rumus-rumus yang digunakan terlihat seperti rumus-rumus palsu, akan tetapi sering kali berkerja dan menghasilkan. Samsul memiliki track record menembus 2 sampai 3 kali dalam 5 round, jika dihitung dengan rupiah dia dapat menghasilkan 100 ribu rupiah sampai dengan 300 ribu rupiah per minggu.
Setelah cukup paham dengan ilmu yang diturunkan oleh samsul. Mulailah kami berdua melakukan cak angka dari jam 8 pagi sampai kira-kira pukul 2 siang. Datanglah teman kami yang bernama Basuki. Dia ini adalah virus yang menularkan orang-orang pabrik untuk memasang togel. Basuki lebih tinggi levelnya dibanding Samsul karena dia lebih berpengalaman. Bahkan Basuki bercerita pada saya bahwa barang-barang di rumahnya banyak juga yang dihasilkan dari togel seperti jaket dan sepatu yang dia gunakan untuk berkerja. Dengan datangnya basuki membawa keberuntungan untuk kami. Saya pernah bermimpi berkerja sebagai pengubur mayat. Entah mimpi itu adalah penglihatan ke depan atau bukan tentang keadaan indonesia di masa depan. Akan tetapi mimpi itu berhasil diterjemahkan dengan baik oleh Basuki dan anehnya entah kenapa semua hitungan saya yang berdasarkan rumus-rumus saya buang. Saya memasangkan angka tersebut sebanyak 10000 rupiah. Anehnya lagi angka tersebut dapat menembus langit keberuntungan togel. Suatu sukses kecil yang membawa dampak ketagihan. Terus terang setelah itu, beberapa mimpi saya juga dapat menembus lagi angka-angka ajaib togel. Menambah lagi rasa kecanduan togel di dalam diri saya. Belakangan, saya sulit sekali untuk bermimpi. Tentu saja beberapa kali saya gagal lagi untuk menembus langit keberuntungan togel. Akhirnya saya berusaha keras untuk menerapkan ilmu komputer di dalam memecahkan pola acak angka ajaib tersebut. Saya berkerja keras untuk menemukan fungsi acak yang merupakan pendekatan fungsi acak angka ajaib. Saya berhasil menemukan rumus yang dapat meningkatkan peluang menang dari 0,01 menjadi 0,024. Akan tetapi rumus itu hanyalah rumus yang terbukti secara statistik. Sampai saat ini saya masih melakukan eksperimen untuk mendapatkan rumus fungsi acak yang secara statistik meningkatkan peluang saya menjadi 0,1. Suatu prestasi besar apabila saya dapat menciptakan rumus dengan peluang kemenangan 0,1. Sampai saat ini,setelah 3 kali percobaan, rumus itu masih belum dapat menembus langit keberuntungan togel. Eksperimen ini tetap saya lakukan semata-mata hanyalah untuk membantu orang-orang yang menggantungkan sebagian hidupnya dari angka ajaib itu seperti Samsul dan pengabdian terhadap ilmu komputer :). Tanpa ada penilaian tentang dosa atau pahala, saya akan terus berusaha untuk memecahkan misteri angka ajaib. Ada yang mau membantu?
Samsul sebenarnya cukup beruntung di waktu dia masih memiliki pekerjaan sebagai satpam dengan gaji 1 juta rupiah per bulan. Walau kadang-kadang tidak cukup, tapi dia masih bisa survive menghadapi kejamnya gilasan roda nasib. Akan tetapi pergerakan roda nasib agak terdorong sedikit oleh gaya-gaya yang tidak menguntungkan. Karena suatu kasus, akhirnya dia dipecat dengan tidak hormat dan harus menganggur untuk beberapa bulan. Waktu berlalu cukup cepat, jalan Tuhan akhirnya menghampiri Samsul. Dia diterima di sebuah perusahaan sebagai Satpam dengan gaji yang tidak menguntungkan seperti dulu. Dia hanya mendapatkan sekitar 400 ribu per bulan. Tapi apa boleh buat pikirnya, nasib telah memaksanya untuk tetap bertahan.
Samsul adalah teman kecil saya. Ketika kecil kami sering bermain bersama, mulai dari bermain di sampah kertas sampai dengan duduk-duduk di atas pohon rambutan melakukan obrolan anak kecil yang tidak pernah tahu tentang kenyataan. Sebagai teman, dia cukup baik. Tidak banyak hal yang kami ributkan. Tapi suatu saat kami berdua pernah membuat kasus besar. Kala itu kami membakar sampah kertas sisa industri tempat kami bermain, alhasil apinya menjadi sangat besar dan tidak sempat lagi untuk dimatikan. Api berkobar sangat besar, sungguh menakutkan dan kami berdua hanya bisa bersembunyi di balik rumah mes tempat ayahku dan ayah samsul berkerja. Sebagai anak-anak kecil yang bodoh, kami tidak berani bilang kepada siapa pun yang berada di pabrik tersebut. Kami hanya berani bilang kepada ibu Samsul sambil menunjukan karya kami yang dashyat itu. Untung saja ibu samsul cepat tanggap dan memberi tahu orang-orang sekitar tentang karya kami yang hampir saja memusnahkan industri di mana ayahku dan ayah samsul bergantung. Orang-orang dewasa yang ketika itu sedang berkerja, cepat-cepat menunda pekerjaannya dan kemudian mematikan api dengan gotong royong. Keberuntungan masih berpihak kepada kami. Api dapat dimatikan, aku dan samsul tidak perlu masuk penjara anak-anak karena ulah kami.
Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, akhirnya aku dapat berbincang-bincang lagi dengan dia. Kala itu secara tidak sengaja, setelah menyaksikan pertandingan Barca - Chelsea, aku tidak bisa tidur lagi. Aku putuskan saja untuk ikut ayahku ke tempat dia berkerja. Sungguh hal yang tidak direncanakan dan berjalan secara kebetulan aku harus bertemu Samsul yang dewasa. Di mulailah obrolan kami dengan nostalgia masa kecil. Kisah-kisah petualangan kami ketika anak-anak dan kebodohan-kebodohan kami seperti kebakaran, sekarang hanya menjadi bahan untuk tertawa. Berlanjut terus obrolan kami hingga akhirnya sampai kepada masalah togel. Sebagai anak-anak yang tumbuh bersama, kami memiliki ketertarikan yang sama. Kami tertarik dengan hal-hal yang bertema keberuntungan dan peluang. Karena itulah togel akhirnya menjadi tema obrolan sepanjang hari kami. Samsul mulai menceritakan tentang kehidupannya yang berubah sejak diberhentikan dari pekerjaan nya yang dahulu. Dan dia juga menceritakan bagaimana togel dapat menolong dirinya untuk tetap survive di dalam menahan gilasan roda kehidupan. Mungkin Tuhan juga mengerti kebutuhan samsul. Sehingga dia berikan suatu jalan sementara sebelum sampai pada jalan yang lebih baik. Saya pun juga sependapat dengan samsul jalan baik atau buruk, tetap jalan yang diberikan Tuhan. Selama terpaksa, jalan apapun musti ditempuh sampai akhirnya bertemu jalan yang lebih baik.
Togel pada intinya bukanlah hal yang murni judi. Sebagai orang yang berpendidikan yang telah belajar mengenai peluang pasti memahami fenomena ini. Bahkan melihat pengalaman Samsul di dalam menembus langit keberuntungan dengan togel, saya mulai menganggap bahwa togel adalah suatu bisnis. Mirip seperti pemain saham. Samsul juga dilengkapi dengan panduan-panduan yang cukup lengkap, seperti buku mimpi, prediksi tiap minggu dan data-data terakhir angka yang keluar. Saya menimba ilmu dari samsul bagaimana mengolah data-data tersebut dan berusaha untuk menembus langit keberuntungan togel. Lucu juga sih, memang ilmu tersebut bukan ilmu science, tapi tetap ada kaitannya dengan ilmu statistik dan peluang. Walau pun rumus-rumus yang digunakan terlihat seperti rumus-rumus palsu, akan tetapi sering kali berkerja dan menghasilkan. Samsul memiliki track record menembus 2 sampai 3 kali dalam 5 round, jika dihitung dengan rupiah dia dapat menghasilkan 100 ribu rupiah sampai dengan 300 ribu rupiah per minggu.
Setelah cukup paham dengan ilmu yang diturunkan oleh samsul. Mulailah kami berdua melakukan cak angka dari jam 8 pagi sampai kira-kira pukul 2 siang. Datanglah teman kami yang bernama Basuki. Dia ini adalah virus yang menularkan orang-orang pabrik untuk memasang togel. Basuki lebih tinggi levelnya dibanding Samsul karena dia lebih berpengalaman. Bahkan Basuki bercerita pada saya bahwa barang-barang di rumahnya banyak juga yang dihasilkan dari togel seperti jaket dan sepatu yang dia gunakan untuk berkerja. Dengan datangnya basuki membawa keberuntungan untuk kami. Saya pernah bermimpi berkerja sebagai pengubur mayat. Entah mimpi itu adalah penglihatan ke depan atau bukan tentang keadaan indonesia di masa depan. Akan tetapi mimpi itu berhasil diterjemahkan dengan baik oleh Basuki dan anehnya entah kenapa semua hitungan saya yang berdasarkan rumus-rumus saya buang. Saya memasangkan angka tersebut sebanyak 10000 rupiah. Anehnya lagi angka tersebut dapat menembus langit keberuntungan togel. Suatu sukses kecil yang membawa dampak ketagihan. Terus terang setelah itu, beberapa mimpi saya juga dapat menembus lagi angka-angka ajaib togel. Menambah lagi rasa kecanduan togel di dalam diri saya. Belakangan, saya sulit sekali untuk bermimpi. Tentu saja beberapa kali saya gagal lagi untuk menembus langit keberuntungan togel. Akhirnya saya berusaha keras untuk menerapkan ilmu komputer di dalam memecahkan pola acak angka ajaib tersebut. Saya berkerja keras untuk menemukan fungsi acak yang merupakan pendekatan fungsi acak angka ajaib. Saya berhasil menemukan rumus yang dapat meningkatkan peluang menang dari 0,01 menjadi 0,024. Akan tetapi rumus itu hanyalah rumus yang terbukti secara statistik. Sampai saat ini saya masih melakukan eksperimen untuk mendapatkan rumus fungsi acak yang secara statistik meningkatkan peluang saya menjadi 0,1. Suatu prestasi besar apabila saya dapat menciptakan rumus dengan peluang kemenangan 0,1. Sampai saat ini,setelah 3 kali percobaan, rumus itu masih belum dapat menembus langit keberuntungan togel. Eksperimen ini tetap saya lakukan semata-mata hanyalah untuk membantu orang-orang yang menggantungkan sebagian hidupnya dari angka ajaib itu seperti Samsul dan pengabdian terhadap ilmu komputer :). Tanpa ada penilaian tentang dosa atau pahala, saya akan terus berusaha untuk memecahkan misteri angka ajaib. Ada yang mau membantu?
Isnin, Februari 07, 2005
Ibuku
Di suatu malam yang biasa, dibisingi oleh suara TV yang selalu hidup ketika ayahku ada. Kami sekeluarga berkumpul menikmati kebersamaan. Ayahku sibuk menonton televisi kesayangannya. Ibuku duduk di meja makan sambil ngemil kue-kue dan sedikit makanan ringan. Walaupun kami sudah tidak lengkap lagi karena kakak-kakakku telah berkeluarga dan berpisah dari kami, tetap saja kami di dalam hati masing-masing masih merindukan saat-saat yang telah lalu di masa-masa keluarga kami sangat miskin akan materi tetapi berkelimpahan rasa kebersamaan yang besar. Aku pun sampai sekarang masih teringat saat-saat aku dan kakak-kakakku berebut makanan sambil menonton acara senam pagi di TVRI tiap hari minggu. Saat-saat di mana obrolan-obrolan yang ketika itu tidak aku mengerti, tetapi aku tetap menguping. Karena aku senang sekali dengan suasana yang ramai itu. Suasana keluarga besar yang anggotanya sebanyak sembilan orang. Suasana yang dihidupi oleh pertengkaran, canda, tawa dan masalah-masalah kehidupan pada umumnya. Akan tetapi kali ini aku tak kan menceritakan tentang keluarga ku. Melainkan hanya tentang ibuku tercinta.
Semua orang mengatakan ikatan antara ibu dan anak sangatlah kuat. Akan tetapi aku tidak pernah setuju dengan pendapat mereka. Menurutku bukanlah suatu ikatan, melainkan aliran kebahagiaan. Ikatan bersifat mengekang, sedangkan aliran kebahagiaan bersifat memerdekakan. Memang aku merasa terikat dengan ibuku. Tapi itu semua bukan karena paksaan, itu semua karena aku bahagia berada di dekatnya. Dia adalah wanita yang dilahirkan di desa candi, Gunung Kidul. Dia adalah wanita yang memulai hidupnya lebih keras dari pada siapa pun pada keluarga kami. Terlahir sebagai anak janda miskin yang hidup di daerah gersang, susah air dan penghidupan, sarana kesehatan dan pendidikan yang minim dan keadaan perang yang memberikan aura kekhawatiran yang besar. Ibunya (nenekku) hanya seorang pedagang daging yang kadang-kadang tidak habis terjual. Berjuang keras menghidupi kelima anaknya di daerah yang bahkan pohon pun sulit untuk tumbuh. Tapi tetap berjuang demi kelangsungan hidup kelima anaknya.
Ibuku adalah anak bontot. Kemauannya sangat keras dan pikirannya sedikit irasional. Dia percaya apa yang dianggap masyarakat umum tahayul tetapi nyata baginya. Sesajen, dukun atau paranormal atau abnormal atau orang pintar adalah fenomena yang umum dia temui sejak kecil. Bahkan hal itu pun dibawanya kepada kami anak-anaknya yang dia sekolahkan untuk berpikir rasional dan sekarang mendarah daging di dalam kehidupan kami. Budaya jawa memang sangat kental mengalir di dalam darahnya. Bahkan untuk melakukan sesuatu dia tidak pernah melupakan doa, syarat, puasa dan lain-lain. Dia juga melakukan puasa senin kamis untuk anak-anaknya. Dia rela melakukan hal-hal tersebut karena kepercayaannya yang besar akan hal itu. Dia selalu prihatin di saat-saat kami mengalami hal yang berat. Dia selalu memberikan semangat di saat kami lelah dan frustasi. Dia yang akan selalu rela berdiri di garis depan untuk melindungi kami. Nyawa , harta dan segala yang dia miliki hanya untuk anaknya, cucunya dan keturunannya. Akan tetapi dia juga yang akan marah pertama kali ketika kami melakukan suatu kesalahan. tetapi dia tetap liberal terhadap kami, walaupun kadang dia tidak suka dengan kelakuan kami, dia tetap memberikan ruang untuk kami. Kami berhak memilih jalan kami sendiri. Hanya saja di dalam kehidupan ini selalu saja ada orang lain yang membuat keonaran. Selentingan-selentingan dan sindiran terhadap anak-anaknya yang belum sukses selalu mengiris hatinya. Bahkan dia harus menanggung ulahku yang tidak menyelesaikan kuliah ku tepat waktu. Dia menangis, berpuasa dan berdoa untuk itu. Bahkan mungkin dia lah yang lebih banyak berjuang ketimbang diriku. Selalu saja dia berhasil untuk membuatku menitikan air mata entah itu berasal dari samudra kebahagiaan atau samudra kesedihan dan kemudian menggerakkan api yang ada di dalam diriku. Andai saja suatu saat aku memiliki istri yang sifatnya seperti dia.
Ibuku memang orang yang agak malas tapi dia selalu merasa dia adalah orang yang paling rajin di dalam keluarga. Memang beberapa sifat negatif seperti mudah marah, keras kepala ada di dalam dirinya, dan beberapa sifat itu menurun ke dalam diriku. Akan tetapi semangat untuk tetap hidup dan berbahagia juga dia turunkan kepadaku walaupun sebenarnya dia juga menurunkan kepekaan terhadap kenyataan yang membuat aku sulit untuk berbahagia. Tetapi kegemaran menyanyi , optimis , percaya mimpi/muzizat dan kepercayaan diri yang tinggi dia bekalkan untukku dalam menghadapi hidup ini. Bahkan dia secara tidak langsung mengajarkan aku untuk mengimani sesuatu.
Kembali pada suasana malam yang biasa. Aku ikut menonton acara televisi bersama ayahku. Walaupun acara tv tidak ada yang istimewa, tetapi tidak ada pilihan lain. Ayahku pun meminta dipijat bagian lehernya. Sudah beberapa tahun sejak serangan jantung, ayahku sering sakit-sakitan dan aku tidak dapat berbuat banyak kecuali memijat badan, tangan, leher dan kakinya dengan segala ilmu pemijatan yang aku pelajari dari buku, mulai dari pijat refleksi sampai pijat dengan menggunakan tenaga prana. Kemudian datanglah ibuku dari kamar kesayangannya sambil bernyanyi dan dia katakan kepadaku. “Jem , mami mau merokok!”. Aku sangat kaget mendengarnya , pikirku sejak kapan ibuku kecanduan merokok. “Mami pusing mikirin duit.” Katanya. Aneh bagiku mendengar kata-kata itu. Karena di dalam keluarga hanya aku dan kakak lelaki tertua yang merokok, ayah pun telah lama berhenti sejak kesulitan dalam menghidupi keenam anaknya. Sambil menonton acara tv di kamar kakakku. Dia berteriak kepadaku “Jem, di mana korek mu? Mami ngga mau nyulut rokok pakai api kompor.”. Aku hanya tertawa sambil menjawab “ada di meja komputer ku nyak!”. Aku memang biasa memanggil ibuku “maknyak” sejak sinetron doel anak sekolahan itu. Dan sampai sekarang panggilan itulah yang paling pas menurutku. Tidak terlalu formal dan membuat suasana bahwa dia bukan hanya ibu, tetapi juga temanku. Kemudian setelah selesai aku memijat ayahku. Aku teriak “Nyak, sudah selesai belum ngrokoknya? Aku mau merokok bareng maknyak.”. Kemudian aku masuk ke kamar kakakku. Aku tertawa melihat caranya merokok. Dia selalu tidak sabar untuk menghisap rokok tersebut. Sesekali dia keluarkan lewat hidungnya. Pikirku, belajar dari mana dia merokok. Sepertinya dia tidak bisa merokok, tapi kok bisa mengeluarkan asap lewat hidungnya. Belakangan ini memang ibuku, suka merokok ketika giginya sakit. Dia percaya bahwa rokok bisa menyembuhkan sakit giginya. Hal ini terjadi gara-gara waktu itu sakit giginya kumat. Dia menelpon om widji kenalan ibuku yang lebih senang disebut seorang “abnormal” ketimbang “paranormal”. Saat itu om widji mau untuk mengobati rasa sakit gigi ibuku dengan teknik penyembuhan jarak jauh asalkan saja ibuku mau untuk merokok. Sebagai orang yang liberal dan mistis, ibuku sih mau saja merokok dari pada menderita oleh sakit giginya itu. Dimintanya lah rokokku sebanyak 4 batang, kemudian dia tutup telepon dan menunggu 10 menit sesuai instruksi om widji. Setelah itu dia hisap rokok Djohar Manik yang dimintanya dariku. Sejak saat itu Dia bisa bernyanyi lagi dan tidur tenang di malam hari. Tapi yang aku rasa aneh adalah sekarang ini dia kadang-kadang suka merokok, entah karena sakit atau kecanduan aku juga tidak mengerti. Yang lebih aneh lagi adalah dia tidak menelpon om widji dulu untuk diproses secara gaib. Dia hanya meminta beberapa batang rokok dan dia yakin itu bisa menyembuhkan sakit giginya. Aneh memang, dia benar2 sembuh dari sakit giginya setelah merokok. Aku tak tahu apakah dia telah mengimani rokok sebagai obat sakit giginya, sehingga tidak memerlukan bantuan om widji atau dia telah kecanduan rokok seperti diriku. Mungkin dia kecanduan rokok pikirku. Soalnya dia pernah berkata “Mami pusing mikirin duit.”. Tapi aku tak peduli lagi sekarang apakah untuk obat sakit gigi atau obat stress, yang penting bagiku aku memiliki ibu yang sekaligus dapat menjadi teman merokok dan ngobrol. Malam itu ibuku curhat banyak sekali tentang pesonanya saat muda yang menggoda banyak pria sampai akhirnya tertidur pulas. Yah begitulah ibuku, selalu merasa cantik setara dengan bintang film. J
Semua orang mengatakan ikatan antara ibu dan anak sangatlah kuat. Akan tetapi aku tidak pernah setuju dengan pendapat mereka. Menurutku bukanlah suatu ikatan, melainkan aliran kebahagiaan. Ikatan bersifat mengekang, sedangkan aliran kebahagiaan bersifat memerdekakan. Memang aku merasa terikat dengan ibuku. Tapi itu semua bukan karena paksaan, itu semua karena aku bahagia berada di dekatnya. Dia adalah wanita yang dilahirkan di desa candi, Gunung Kidul. Dia adalah wanita yang memulai hidupnya lebih keras dari pada siapa pun pada keluarga kami. Terlahir sebagai anak janda miskin yang hidup di daerah gersang, susah air dan penghidupan, sarana kesehatan dan pendidikan yang minim dan keadaan perang yang memberikan aura kekhawatiran yang besar. Ibunya (nenekku) hanya seorang pedagang daging yang kadang-kadang tidak habis terjual. Berjuang keras menghidupi kelima anaknya di daerah yang bahkan pohon pun sulit untuk tumbuh. Tapi tetap berjuang demi kelangsungan hidup kelima anaknya.
Ibuku adalah anak bontot. Kemauannya sangat keras dan pikirannya sedikit irasional. Dia percaya apa yang dianggap masyarakat umum tahayul tetapi nyata baginya. Sesajen, dukun atau paranormal atau abnormal atau orang pintar adalah fenomena yang umum dia temui sejak kecil. Bahkan hal itu pun dibawanya kepada kami anak-anaknya yang dia sekolahkan untuk berpikir rasional dan sekarang mendarah daging di dalam kehidupan kami. Budaya jawa memang sangat kental mengalir di dalam darahnya. Bahkan untuk melakukan sesuatu dia tidak pernah melupakan doa, syarat, puasa dan lain-lain. Dia juga melakukan puasa senin kamis untuk anak-anaknya. Dia rela melakukan hal-hal tersebut karena kepercayaannya yang besar akan hal itu. Dia selalu prihatin di saat-saat kami mengalami hal yang berat. Dia selalu memberikan semangat di saat kami lelah dan frustasi. Dia yang akan selalu rela berdiri di garis depan untuk melindungi kami. Nyawa , harta dan segala yang dia miliki hanya untuk anaknya, cucunya dan keturunannya. Akan tetapi dia juga yang akan marah pertama kali ketika kami melakukan suatu kesalahan. tetapi dia tetap liberal terhadap kami, walaupun kadang dia tidak suka dengan kelakuan kami, dia tetap memberikan ruang untuk kami. Kami berhak memilih jalan kami sendiri. Hanya saja di dalam kehidupan ini selalu saja ada orang lain yang membuat keonaran. Selentingan-selentingan dan sindiran terhadap anak-anaknya yang belum sukses selalu mengiris hatinya. Bahkan dia harus menanggung ulahku yang tidak menyelesaikan kuliah ku tepat waktu. Dia menangis, berpuasa dan berdoa untuk itu. Bahkan mungkin dia lah yang lebih banyak berjuang ketimbang diriku. Selalu saja dia berhasil untuk membuatku menitikan air mata entah itu berasal dari samudra kebahagiaan atau samudra kesedihan dan kemudian menggerakkan api yang ada di dalam diriku. Andai saja suatu saat aku memiliki istri yang sifatnya seperti dia.
Ibuku memang orang yang agak malas tapi dia selalu merasa dia adalah orang yang paling rajin di dalam keluarga. Memang beberapa sifat negatif seperti mudah marah, keras kepala ada di dalam dirinya, dan beberapa sifat itu menurun ke dalam diriku. Akan tetapi semangat untuk tetap hidup dan berbahagia juga dia turunkan kepadaku walaupun sebenarnya dia juga menurunkan kepekaan terhadap kenyataan yang membuat aku sulit untuk berbahagia. Tetapi kegemaran menyanyi , optimis , percaya mimpi/muzizat dan kepercayaan diri yang tinggi dia bekalkan untukku dalam menghadapi hidup ini. Bahkan dia secara tidak langsung mengajarkan aku untuk mengimani sesuatu.
Kembali pada suasana malam yang biasa. Aku ikut menonton acara televisi bersama ayahku. Walaupun acara tv tidak ada yang istimewa, tetapi tidak ada pilihan lain. Ayahku pun meminta dipijat bagian lehernya. Sudah beberapa tahun sejak serangan jantung, ayahku sering sakit-sakitan dan aku tidak dapat berbuat banyak kecuali memijat badan, tangan, leher dan kakinya dengan segala ilmu pemijatan yang aku pelajari dari buku, mulai dari pijat refleksi sampai pijat dengan menggunakan tenaga prana. Kemudian datanglah ibuku dari kamar kesayangannya sambil bernyanyi dan dia katakan kepadaku. “Jem , mami mau merokok!”. Aku sangat kaget mendengarnya , pikirku sejak kapan ibuku kecanduan merokok. “Mami pusing mikirin duit.” Katanya. Aneh bagiku mendengar kata-kata itu. Karena di dalam keluarga hanya aku dan kakak lelaki tertua yang merokok, ayah pun telah lama berhenti sejak kesulitan dalam menghidupi keenam anaknya. Sambil menonton acara tv di kamar kakakku. Dia berteriak kepadaku “Jem, di mana korek mu? Mami ngga mau nyulut rokok pakai api kompor.”. Aku hanya tertawa sambil menjawab “ada di meja komputer ku nyak!”. Aku memang biasa memanggil ibuku “maknyak” sejak sinetron doel anak sekolahan itu. Dan sampai sekarang panggilan itulah yang paling pas menurutku. Tidak terlalu formal dan membuat suasana bahwa dia bukan hanya ibu, tetapi juga temanku. Kemudian setelah selesai aku memijat ayahku. Aku teriak “Nyak, sudah selesai belum ngrokoknya? Aku mau merokok bareng maknyak.”. Kemudian aku masuk ke kamar kakakku. Aku tertawa melihat caranya merokok. Dia selalu tidak sabar untuk menghisap rokok tersebut. Sesekali dia keluarkan lewat hidungnya. Pikirku, belajar dari mana dia merokok. Sepertinya dia tidak bisa merokok, tapi kok bisa mengeluarkan asap lewat hidungnya. Belakangan ini memang ibuku, suka merokok ketika giginya sakit. Dia percaya bahwa rokok bisa menyembuhkan sakit giginya. Hal ini terjadi gara-gara waktu itu sakit giginya kumat. Dia menelpon om widji kenalan ibuku yang lebih senang disebut seorang “abnormal” ketimbang “paranormal”. Saat itu om widji mau untuk mengobati rasa sakit gigi ibuku dengan teknik penyembuhan jarak jauh asalkan saja ibuku mau untuk merokok. Sebagai orang yang liberal dan mistis, ibuku sih mau saja merokok dari pada menderita oleh sakit giginya itu. Dimintanya lah rokokku sebanyak 4 batang, kemudian dia tutup telepon dan menunggu 10 menit sesuai instruksi om widji. Setelah itu dia hisap rokok Djohar Manik yang dimintanya dariku. Sejak saat itu Dia bisa bernyanyi lagi dan tidur tenang di malam hari. Tapi yang aku rasa aneh adalah sekarang ini dia kadang-kadang suka merokok, entah karena sakit atau kecanduan aku juga tidak mengerti. Yang lebih aneh lagi adalah dia tidak menelpon om widji dulu untuk diproses secara gaib. Dia hanya meminta beberapa batang rokok dan dia yakin itu bisa menyembuhkan sakit giginya. Aneh memang, dia benar2 sembuh dari sakit giginya setelah merokok. Aku tak tahu apakah dia telah mengimani rokok sebagai obat sakit giginya, sehingga tidak memerlukan bantuan om widji atau dia telah kecanduan rokok seperti diriku. Mungkin dia kecanduan rokok pikirku. Soalnya dia pernah berkata “Mami pusing mikirin duit.”. Tapi aku tak peduli lagi sekarang apakah untuk obat sakit gigi atau obat stress, yang penting bagiku aku memiliki ibu yang sekaligus dapat menjadi teman merokok dan ngobrol. Malam itu ibuku curhat banyak sekali tentang pesonanya saat muda yang menggoda banyak pria sampai akhirnya tertidur pulas. Yah begitulah ibuku, selalu merasa cantik setara dengan bintang film. J
Sabtu, Disember 25, 2004
Mabuk
Aku ingat ketika pertama kali melihatnya. Tiada rasa terpesona. Tiada rasa yang menabok jantungku. Aku biasa saja dan pikirku mana mungkin aku bisa menjalin hubungan dengan seseorang yang berasal dari golongan berbeda. Berhentilah angkutan umum yang aku naiki. Kemudian dia naik. Bangku sudah penuh dan tersisa hanya satu di deretan tempat ku duduk. Dengan maksud baik aku geser menjauhi pintu untuk mempermudah dia mendapatkan tempatnya, karena kupikir aku pasti yang akan turun terakhir dibanding yang lain. Dia duduk di sebelah ku. Sebab tidak ada pilihan lain, karena penumpang yang berdempet denganku bergeser ke arah yang berlawanan.
Perlahan-lahan aku mencuri pandang ke arah wajahnya. Rupanya dia cukup sensitif, radarnya menggerakkan matanya untuk melirik balik. Kuarahkan saja mataku ke tempat lain dengan maksud menghormati prinsipnya. Maklum dia sepertinya seorang muslim yang kuat. Pakaiannya sopan, menggunakan kerudung hitam. Dan sudah pasti dia menganggap bahwa berpandangan mata dengan lawan jenis akan menumpuk tiket menuju neraka. Aku bisa saja tetap mengarahkan mataku ke arah wajahnya tapi otak ini sepertinya menentang hal itu. Kembali aku melirik lagi untuk melihat jelas seperti apa wajahnya. Wajahnya menunjukan bahwa dia memiliki gen arab dengan hidung mancung dan bulu-bulu di pipinya. Dengan bentuk wajah panjang , hidung mancung, alis tebal dan dagu yang pas dia terlihat cukup cantik dari samping. Tapi sudahlah pikirku, banyak hal yang harus aku urus dan tentu aku harus berpegang pada rencana di kepala ini.
Waktu berjalan terus. Tanpa aku sadari benar-benar, vibrasinya mempengaruhi bagian kelenjar pineal di otak. Perlahan-lahan melatonin sepertinya mengalir cukup deras dan membuat seluruh sel tubuhku ini rileks. Aku mulai sadar bahwa dia memiliki aura yang kuat sehingga memaksa sel-sel tubuhku untuk bernyanyi dengan nada yang sama dengan vibrasinya. Aku merasakan bahwa berada di dekatnya saja membuat perasaan nyaman dan aman yang teramat sangat. Rasa-rasa bahagia dari tiap sel semakin kuat dan sepertinya vibrasiku telah sama dengan vibrasinya. Terus terang saja, kalau dia adalah temanku atau kekasihku dan dalam kondisi yang memungkinkan, pasti aku akan meletakkan kepala ini ke pangkuannya. Sayang saja, semua dalam kondisi yang tidak tepat.
Aku tidak mengerti kenapa pada saat dan kondisi yang tidak tepat aku merasakan adanya seseorang yang tepat untuk ku. Pikirku lagi kenapa orang-orang yang tepat itu, tidak berada pada dimensi yang sama melainkan berada pada dimensi yang berlawanan. Hidup ini aneh dan membuatku pusing. Akhirnya aku putuskan saja untuk menikmati kenyamanan itu. Aku tutup mataku dan masuk ke dalam keadaan mabuk. Sepertinya saat itu gairah hidup yang telah lama mati itu kembali bangkit. Aku merasa seperti dinamit yang sumbunya disulut dengan api dan siap untuk meledak. Aku akan meledak , aku akan meledak pikirku. Yah aku meledak, tapi di hati ini. Bukan diluar. Aliran kebahagiaan itu pun aktif lagi. Aku mabuk kebahagiaan walau aku tahu tak mungkin untuk melangkahkan satu kakiku ke dalam dimensinya tapi setidaknya aku tahu bahwa ada suatu pasangan puzzle yang tepat untuk jiwa ini. Dan itu meyakinkan aku tentang siapa yang aku butuhkan dan siapa yang tidak. Oh damainya hati ini walau sumber vibrasi itu telah berpisah dariku. Aku tetap mabuk sampai aku bertemu teman-temanku. Aku mabuk lagi dan itu sangat kunikmati untuk tiap seperjuta detik yang aku lalui. Aku tak bisa gambarkan lagi perasaan itu. Perasaan yang sangat dalam dan kupikir kosakata untuk menggambarkannya tidak akan pernah kutemukan di dalam kamus manapun melainkan hanya pada kamus cinta.
Perlahan-lahan aku mencuri pandang ke arah wajahnya. Rupanya dia cukup sensitif, radarnya menggerakkan matanya untuk melirik balik. Kuarahkan saja mataku ke tempat lain dengan maksud menghormati prinsipnya. Maklum dia sepertinya seorang muslim yang kuat. Pakaiannya sopan, menggunakan kerudung hitam. Dan sudah pasti dia menganggap bahwa berpandangan mata dengan lawan jenis akan menumpuk tiket menuju neraka. Aku bisa saja tetap mengarahkan mataku ke arah wajahnya tapi otak ini sepertinya menentang hal itu. Kembali aku melirik lagi untuk melihat jelas seperti apa wajahnya. Wajahnya menunjukan bahwa dia memiliki gen arab dengan hidung mancung dan bulu-bulu di pipinya. Dengan bentuk wajah panjang , hidung mancung, alis tebal dan dagu yang pas dia terlihat cukup cantik dari samping. Tapi sudahlah pikirku, banyak hal yang harus aku urus dan tentu aku harus berpegang pada rencana di kepala ini.
Waktu berjalan terus. Tanpa aku sadari benar-benar, vibrasinya mempengaruhi bagian kelenjar pineal di otak. Perlahan-lahan melatonin sepertinya mengalir cukup deras dan membuat seluruh sel tubuhku ini rileks. Aku mulai sadar bahwa dia memiliki aura yang kuat sehingga memaksa sel-sel tubuhku untuk bernyanyi dengan nada yang sama dengan vibrasinya. Aku merasakan bahwa berada di dekatnya saja membuat perasaan nyaman dan aman yang teramat sangat. Rasa-rasa bahagia dari tiap sel semakin kuat dan sepertinya vibrasiku telah sama dengan vibrasinya. Terus terang saja, kalau dia adalah temanku atau kekasihku dan dalam kondisi yang memungkinkan, pasti aku akan meletakkan kepala ini ke pangkuannya. Sayang saja, semua dalam kondisi yang tidak tepat.
Aku tidak mengerti kenapa pada saat dan kondisi yang tidak tepat aku merasakan adanya seseorang yang tepat untuk ku. Pikirku lagi kenapa orang-orang yang tepat itu, tidak berada pada dimensi yang sama melainkan berada pada dimensi yang berlawanan. Hidup ini aneh dan membuatku pusing. Akhirnya aku putuskan saja untuk menikmati kenyamanan itu. Aku tutup mataku dan masuk ke dalam keadaan mabuk. Sepertinya saat itu gairah hidup yang telah lama mati itu kembali bangkit. Aku merasa seperti dinamit yang sumbunya disulut dengan api dan siap untuk meledak. Aku akan meledak , aku akan meledak pikirku. Yah aku meledak, tapi di hati ini. Bukan diluar. Aliran kebahagiaan itu pun aktif lagi. Aku mabuk kebahagiaan walau aku tahu tak mungkin untuk melangkahkan satu kakiku ke dalam dimensinya tapi setidaknya aku tahu bahwa ada suatu pasangan puzzle yang tepat untuk jiwa ini. Dan itu meyakinkan aku tentang siapa yang aku butuhkan dan siapa yang tidak. Oh damainya hati ini walau sumber vibrasi itu telah berpisah dariku. Aku tetap mabuk sampai aku bertemu teman-temanku. Aku mabuk lagi dan itu sangat kunikmati untuk tiap seperjuta detik yang aku lalui. Aku tak bisa gambarkan lagi perasaan itu. Perasaan yang sangat dalam dan kupikir kosakata untuk menggambarkannya tidak akan pernah kutemukan di dalam kamus manapun melainkan hanya pada kamus cinta.
Sabtu, Disember 04, 2004
Yoga
Yoga dalam arti luas adalah suatu disiplin khusus yang diciptakan untuk membantu manusia mengharmonisasi vibrasi diri nya dengan vibrasi yang Tunggal. Jadi sebenarnya pengertian Yoga tidak terbatas pada suatu metode yang berasal dari tradisi India kuno yang kebanyakan orang mengartikannya seperti itu. Yoga itu dikenal oleh berbagai suku bangsa. Hanya saja metodenya sedikit berbeda. Seperti orang-orang israel melakukan praktek yoga dengan berdoa kepada sang Tunggal sedangkan orang-orang shaman melakukannya dengan menari-nari dan bernyanyi dan orang-orang jawa melakukannya dengan tapa geni 40 hari 40 malam. Tujuan mereka melakukan itu semuanya sama, yaitu mendekatkan diri mereka dengan sang Tunggal sampai akhirnya jiwa mereka bisa melebur ke dalam jiwa sang tunggal.
Hanya saja di dalam dunia ini manusia selalu saja mempermasalahkan masalah metode tersebut. Contohnya saja umat-umat kristiani tentu akan marah jika saya mengatakan bahwa apa yang diajarkan Yesus kristus adalah bagian dari Yoga. Ajaran tersebut sebenarnya merupakan bagian dari Yoga yang dinamakan Bhakti Yoga. Ajaran pokok Bhakti Yoga adalah bahwa untuk melebur kepada yang tunggal dapat dilakukan dengan memberikan Bhakti atau pelayanan tulus kepada yang Tunggal. Lalu bagaimana caranya? Sedangkan yang Tunggal adalah sesuatu yang abstrak dan tidak dapat dirasakan dengan kelima indra kita. Caranya tentu saja adalah dengan melakukan pelayanan kepada ciptaannya yang merupakan manifestasi dari sang Tunggal tersebut. Tidak ada cara lain lagi.
Lantas umat muslim juga akan marah jika saya mengatakan bahwa gerakan sholat merupakan bagian dari Yoga juga. Sebenarnya tujuan gerakan dan pose di dalam sholat bertujuan untuk menyeimbangkan fungsi sistem hormon dan sistem syaraf manusia. Di dalam yoga, hal tersebut dinamakan hatha Yoga yang artinya peleburan dengan sang Tunggal melalui olah jasmani. Hanya saja pose-pose di dalam hatha yoga dilakukan dengan sifat statis akan tetapi ada juga gerakan-gerakan yang di dalam hatha yoga yang bersifat dinamik seperti senam sebenarnya.
Hal yang wajar jika manusia selalu memperdebatkan perbedaan metode. Karena di dalam pencarian sang Tunggal selalu terbentur oleh pertaruhan antara waktu hidup mereka yang sebentar dengan kesuksesan akan metode tersebut. Manusia selalu berorientasi hasil, mereka tidak akan pernah tulus apabila tidak ada hasilnya, karena itu mereka membuat suatu pembenaran akan metode yang mereka jalani agar mereka tetap dapat dengan yakin melaksanakan metode tersebut walaupun tidak pernah ada jaminan sukses di dalam metode tersebut. Saking pandainya, maka manusia mengolah hukum dualisme untuk memperoleh keyakinan tersebut. Mereka membuat seolah-olah apa yang mereka jalankan adalah yang paling benar dan jalan orang lain adalah yang sesat atau salah. Dengan mengolah itu, maka keyakinan akan metode tersebut meningkat tajam. Akan tetapi apakah hukum dualisme itu berlaku di dunia? Mungkin saja kedua metode tersebut benar adanya. Lagi pula siapa yang dapat membuktikan kebenarannya kalau belum pernah menjalankan metode tersebut sampai sukses? Dan lucunya lagi yang sukses tidak pernah bisa memberikan bukti itu. Bagi mereka sama saja membuktikan adanya bulan kepada orang buta. Mana mungkin Boo…
Hanya saja di dalam dunia ini manusia selalu saja mempermasalahkan masalah metode tersebut. Contohnya saja umat-umat kristiani tentu akan marah jika saya mengatakan bahwa apa yang diajarkan Yesus kristus adalah bagian dari Yoga. Ajaran tersebut sebenarnya merupakan bagian dari Yoga yang dinamakan Bhakti Yoga. Ajaran pokok Bhakti Yoga adalah bahwa untuk melebur kepada yang tunggal dapat dilakukan dengan memberikan Bhakti atau pelayanan tulus kepada yang Tunggal. Lalu bagaimana caranya? Sedangkan yang Tunggal adalah sesuatu yang abstrak dan tidak dapat dirasakan dengan kelima indra kita. Caranya tentu saja adalah dengan melakukan pelayanan kepada ciptaannya yang merupakan manifestasi dari sang Tunggal tersebut. Tidak ada cara lain lagi.
Lantas umat muslim juga akan marah jika saya mengatakan bahwa gerakan sholat merupakan bagian dari Yoga juga. Sebenarnya tujuan gerakan dan pose di dalam sholat bertujuan untuk menyeimbangkan fungsi sistem hormon dan sistem syaraf manusia. Di dalam yoga, hal tersebut dinamakan hatha Yoga yang artinya peleburan dengan sang Tunggal melalui olah jasmani. Hanya saja pose-pose di dalam hatha yoga dilakukan dengan sifat statis akan tetapi ada juga gerakan-gerakan yang di dalam hatha yoga yang bersifat dinamik seperti senam sebenarnya.
Hal yang wajar jika manusia selalu memperdebatkan perbedaan metode. Karena di dalam pencarian sang Tunggal selalu terbentur oleh pertaruhan antara waktu hidup mereka yang sebentar dengan kesuksesan akan metode tersebut. Manusia selalu berorientasi hasil, mereka tidak akan pernah tulus apabila tidak ada hasilnya, karena itu mereka membuat suatu pembenaran akan metode yang mereka jalani agar mereka tetap dapat dengan yakin melaksanakan metode tersebut walaupun tidak pernah ada jaminan sukses di dalam metode tersebut. Saking pandainya, maka manusia mengolah hukum dualisme untuk memperoleh keyakinan tersebut. Mereka membuat seolah-olah apa yang mereka jalankan adalah yang paling benar dan jalan orang lain adalah yang sesat atau salah. Dengan mengolah itu, maka keyakinan akan metode tersebut meningkat tajam. Akan tetapi apakah hukum dualisme itu berlaku di dunia? Mungkin saja kedua metode tersebut benar adanya. Lagi pula siapa yang dapat membuktikan kebenarannya kalau belum pernah menjalankan metode tersebut sampai sukses? Dan lucunya lagi yang sukses tidak pernah bisa memberikan bukti itu. Bagi mereka sama saja membuktikan adanya bulan kepada orang buta. Mana mungkin Boo…
Krishna dan Arjuna
Suatu waktu untuk sebuah urusan kenegaraan. Krishna dan Arjuna yang dalam penyamaran melewati sebuah desa kecil yang tidak termasuk di dalam kekuasaan nya. Karena haus dan letih Krishna menyuruh Arjuna untuk meminta air minum kepada penduduk desa tersebut.
Tibalah mereka di sebuah rumah saudagar kaya di desa itu. Kemudian dengan baik-baik Arjuna meminta air minum kepada saudagar kaya tersebut. “Tuan, jikalau anda berkenan, kami meminta air minum untuk menghilangkan haus kami karena perjalanan jauh.”. Melihat pakaian mereka yang terlihat sebagai rakyat jelata, saudagar tersebut mengusir mereka. “Pergi kalian! Aku tidak punya waktu untuk kalian.”. Pergilah mereka karena telah diusir dengan sangat hina.
Kemudian tibalah Krishna dan Arjuna pada sebuah rumah janda miskin yang hanya memiliki seekor sapi yang susunya adalah sumber mata pencaharian janda tersebut. Arjuna kemudian mendatangi janda tersebut “Ibu, dapatkah kami memiliki setengguk air minum untuk melepas dahaga ini?”. Dengan sangat gembira janda miskin tersebut memberikan air minum kepada dua orang yang asing baginya. “Silahkan, nikmatilah air nya. Dewa sangat murah hati kepada Ku. Tentu aku pun harus murah hati kepada kalian. Lagi pula, air ini pun pemberian Dewa, bukan milik ku.”. Selesai beristirahat sejenak, mereka pun pamit untuk meneruskan perjalanan. “Ibu, terima kasih atas airnya. Semoga Dewa membalas semua perbuatan baik mu.” Kata Arjuna. Pergilah mereka meneruskan perjalanan yang masih sangat jauh.
Di dalam perjalanan terjadilah dialog antara Krishna dan Arjuna. “Tahukah arjuna? Apa balasan untuk sang saudagar dan untuk sang janda yang akan diberikan Dewa?”. Dengan sangat yakin Arjuna menjawab “Sang saudagar akan jatuh miskin karena kekikiran nya dan sang janda akan menjadi kaya raya. Bukan kah begitu?”. “Hahaha…” Krishna tertawa mendengar jawaban Arjuna. Baginya jawaban tersebut begitu polos untuk seorang ksatria seperti Arjuna. “Bukan itu, bukan…” Krishna meneruskan. “Dewa tidak pernah berpikir seperti engkau Arjuna, engkau berpikir terlalu sempit.”. “Lalu apa?” dengan sedikit gusar Arjuna bertanya. Baginya pengetahuan hukum karma yang telah dipelajarinya dari sang Krishna harus dilepehkan kembali dari pikirannya. “Sang saudagar akan bertambah kaya dan bertambah kaya dan bertambah kaya. Lalu sang janda akan kehilangan sapinya esok hari.”. “Bukankah itu tidak adil?” masih dengan sedikit gusar Arjuna bertanya kembali. “Tahukah engkau keadilan menurut Dewa arjuna?” Krishna kembalikan kegusaran arjuna kepada diri nya. “Tidak… lagi pula aku bukan Dewa.”. Kemudian Krishna meneruskan “Dewa muak dengan doa-doa sang saudagar yang walaupun telah bertahun-tahun berdoa, tidak memiliki kasih sayang kepada makhluk lain. Karena itu dia jauhkan doa sang saudagar dengan menyibukkan sang saudagar dengan harta yang terus berlipat dan terus berlipat hingga dia lupa berdoa dan terus sibuk dengan hartanya. Sedangkan doa sang janda terdengar sebagai nyanyian lembut yang penuh kasih sayang dan ketulusan bagi Dewa. Untuk itu Dewa ingin terus mendengarkan doa sang janda, dia ingin dekat dengan sang Janda , Dia ingin lebih dekat lagi dan lebih dekat lagi dan lebih dekat lagi sampai tidak ada lagi jarak antara dia dan sang janda. Karena cemburu dengan seekor sapi yang menyita perhatian sang janda, maka Dewa membinasakan sapi tersebut agar lebih banyak nyanyian merdu yang ia dengarkan.”. Tersenyumlah Arjuna mendengar alasan Krishna yang tidak pernah terpikirkan olehnya.
Note:Dalam tradisi Yoga yang berarti peleburan dengan yang Esa, tujuan kita hidup adalah kembali kepada Nya, bukan kembali kepada neraka Nya atau surga Nya. Karena itu kedekatan dengan yang Tunggal lebih berharga ketimbang hal-hal yang sifatnya fana atau maya. Karena itu seorang Yogi (praktisi Yoga) yang telah mengalami pencerahan pernah mengatakan di surga aku melihat Tuhan, di neraka aku melihat Tuhan, di mana-mana Aku melihat Tuhan. Lalu ke manakah kalian mencari Tuhan?
Tibalah mereka di sebuah rumah saudagar kaya di desa itu. Kemudian dengan baik-baik Arjuna meminta air minum kepada saudagar kaya tersebut. “Tuan, jikalau anda berkenan, kami meminta air minum untuk menghilangkan haus kami karena perjalanan jauh.”. Melihat pakaian mereka yang terlihat sebagai rakyat jelata, saudagar tersebut mengusir mereka. “Pergi kalian! Aku tidak punya waktu untuk kalian.”. Pergilah mereka karena telah diusir dengan sangat hina.
Kemudian tibalah Krishna dan Arjuna pada sebuah rumah janda miskin yang hanya memiliki seekor sapi yang susunya adalah sumber mata pencaharian janda tersebut. Arjuna kemudian mendatangi janda tersebut “Ibu, dapatkah kami memiliki setengguk air minum untuk melepas dahaga ini?”. Dengan sangat gembira janda miskin tersebut memberikan air minum kepada dua orang yang asing baginya. “Silahkan, nikmatilah air nya. Dewa sangat murah hati kepada Ku. Tentu aku pun harus murah hati kepada kalian. Lagi pula, air ini pun pemberian Dewa, bukan milik ku.”. Selesai beristirahat sejenak, mereka pun pamit untuk meneruskan perjalanan. “Ibu, terima kasih atas airnya. Semoga Dewa membalas semua perbuatan baik mu.” Kata Arjuna. Pergilah mereka meneruskan perjalanan yang masih sangat jauh.
Di dalam perjalanan terjadilah dialog antara Krishna dan Arjuna. “Tahukah arjuna? Apa balasan untuk sang saudagar dan untuk sang janda yang akan diberikan Dewa?”. Dengan sangat yakin Arjuna menjawab “Sang saudagar akan jatuh miskin karena kekikiran nya dan sang janda akan menjadi kaya raya. Bukan kah begitu?”. “Hahaha…” Krishna tertawa mendengar jawaban Arjuna. Baginya jawaban tersebut begitu polos untuk seorang ksatria seperti Arjuna. “Bukan itu, bukan…” Krishna meneruskan. “Dewa tidak pernah berpikir seperti engkau Arjuna, engkau berpikir terlalu sempit.”. “Lalu apa?” dengan sedikit gusar Arjuna bertanya. Baginya pengetahuan hukum karma yang telah dipelajarinya dari sang Krishna harus dilepehkan kembali dari pikirannya. “Sang saudagar akan bertambah kaya dan bertambah kaya dan bertambah kaya. Lalu sang janda akan kehilangan sapinya esok hari.”. “Bukankah itu tidak adil?” masih dengan sedikit gusar Arjuna bertanya kembali. “Tahukah engkau keadilan menurut Dewa arjuna?” Krishna kembalikan kegusaran arjuna kepada diri nya. “Tidak… lagi pula aku bukan Dewa.”. Kemudian Krishna meneruskan “Dewa muak dengan doa-doa sang saudagar yang walaupun telah bertahun-tahun berdoa, tidak memiliki kasih sayang kepada makhluk lain. Karena itu dia jauhkan doa sang saudagar dengan menyibukkan sang saudagar dengan harta yang terus berlipat dan terus berlipat hingga dia lupa berdoa dan terus sibuk dengan hartanya. Sedangkan doa sang janda terdengar sebagai nyanyian lembut yang penuh kasih sayang dan ketulusan bagi Dewa. Untuk itu Dewa ingin terus mendengarkan doa sang janda, dia ingin dekat dengan sang Janda , Dia ingin lebih dekat lagi dan lebih dekat lagi dan lebih dekat lagi sampai tidak ada lagi jarak antara dia dan sang janda. Karena cemburu dengan seekor sapi yang menyita perhatian sang janda, maka Dewa membinasakan sapi tersebut agar lebih banyak nyanyian merdu yang ia dengarkan.”. Tersenyumlah Arjuna mendengar alasan Krishna yang tidak pernah terpikirkan olehnya.
Note:Dalam tradisi Yoga yang berarti peleburan dengan yang Esa, tujuan kita hidup adalah kembali kepada Nya, bukan kembali kepada neraka Nya atau surga Nya. Karena itu kedekatan dengan yang Tunggal lebih berharga ketimbang hal-hal yang sifatnya fana atau maya. Karena itu seorang Yogi (praktisi Yoga) yang telah mengalami pencerahan pernah mengatakan di surga aku melihat Tuhan, di neraka aku melihat Tuhan, di mana-mana Aku melihat Tuhan. Lalu ke manakah kalian mencari Tuhan?
Kisah Rama Krishna
Rama Krishna adalah salah seorang yogi besar yang dipercaya oleh masyarakat india telah mencapai pencerahan spiritual. Dia memiliki banyak sekali pengikut yang belajar kepada nya mengenai usaha pembebasan atau pencapaian pencerahan.
Suatu siang di sebuah pedesaan di daerah india terjadilah perdebatan antar pengikut Rama Krishna mengenai pilihan nya untuk seorang ketua pengganti diri nya. Pilihan tersebut jatuh kepada Swami Vivekananda yang merupakan seorang yang biasa saja dan tidak kelihatan sebagai yang terhebat di antara pengikut-pengikut Rama Krishna yang lain. Pengikut-pengikut yang lain merasa bahwa pemilihan Vivekananda sebagai ketua tidaklah sesuai dengan prinsip keadilan yang sering sekali diajarkan kepada mereka. Menurut mereka tidak ada dasar yang jelas mengapa Vivekananda yang dipilih olehnya.
Mendengar hal ini, Rama Krishna tidak ingin terjadi perpecahan di antara pengikut-pengikutnya. Karena itu Rama Krishna mengadakan pertemuan antara Dia dengan semua pengikutnya.
Duduklah Rama Krishna di atas suatu pendopo yang dipayungi pohon beringin besar menunggu kedatangan semua muridnya. Setelah semua muridnya datang, termasuk murid kesayangannya Swami Vivekananda, maka berkatalah Dia “Tahukah kalian mengapa aku memilih Vivekananda?”. Tidak satu pun murid yang berani menjawab pertanyaan itu.
“Apakah karena dia tampan? … atau mungkin karena dia rajin? … atau mungkin karena dia pandai?” Tetap semuanya terdiam. Vivekananda pun hanya terdiam dan duduk dengan tenang bersama murid-murid yang lain. Kemudian suasana menjadi hening untuk beberapa saat dan tiba-tiba Rama Krishna terbatuk. Murid-murid nya yang mencari muka dihadapannya pun menunjukkan rasa sayang dan perhatian kepada dia. Mereka berusaha untuk memijat kaki, tangan dan badan sang pertapa tersebut. Akan tetapi Rama Krishna tidak mempedulikan perhatian mereka, kemudian Dia meludah ke tanah membuang reak yang terkumpul di mulutnya akibat batuk tersebut. “Oeggghhhhhhh…………. Cueh…” begitulah kira-kira suaranya. Setelah itu dia menunjuk kepada Vivekananda. “Makanlah itu!” perintahnya sambil menunjuk kepada reak yang telah dibuang melalui mulutnya. Tanpa pikir panjang, Vivekananda menuruti perintahnya seketika itu juga. Kemudian Rama Krishna berdiri dan berkata “Itulah alasanku memilih Vivekananda!”. Tanpa kata-kata Dia pun pergi meninggalkan kerumunan muridnya.
Note: Cerita ini mengandung esensi mendalam mengenai panteisme, yaitu suatu paham ketuhanan yang memandang bahwa Tuhan yang tunggal termanifestasi dalam ciptaannya yang majemuk. Dalam cerita, Rama Krishna adalah orang yang telah mengerti benar dan merasakan kehadiran Tuhan di dalam dirinya, begitu pun Vivekananda. Karena itu sebenarnya mereka telah merasakan satu di dalam manifestasi yang majemuk. Rama Krishna adalah Vivekananda adalah Tuhan yang Tunggal dan Vivekananda adalah Rama Krsihna Adalah juga Tuhan yang Tunggal.Karena itu pertanyaan “Apakah salah untuk menelan reak sendiri yang sebenarnya merupakan bagian yang sama dari diri sesungguhnya?” memiliki arah yang sama dengan “Apakah salah untuk memukul diri sendiri?”
Suatu siang di sebuah pedesaan di daerah india terjadilah perdebatan antar pengikut Rama Krishna mengenai pilihan nya untuk seorang ketua pengganti diri nya. Pilihan tersebut jatuh kepada Swami Vivekananda yang merupakan seorang yang biasa saja dan tidak kelihatan sebagai yang terhebat di antara pengikut-pengikut Rama Krishna yang lain. Pengikut-pengikut yang lain merasa bahwa pemilihan Vivekananda sebagai ketua tidaklah sesuai dengan prinsip keadilan yang sering sekali diajarkan kepada mereka. Menurut mereka tidak ada dasar yang jelas mengapa Vivekananda yang dipilih olehnya.
Mendengar hal ini, Rama Krishna tidak ingin terjadi perpecahan di antara pengikut-pengikutnya. Karena itu Rama Krishna mengadakan pertemuan antara Dia dengan semua pengikutnya.
Duduklah Rama Krishna di atas suatu pendopo yang dipayungi pohon beringin besar menunggu kedatangan semua muridnya. Setelah semua muridnya datang, termasuk murid kesayangannya Swami Vivekananda, maka berkatalah Dia “Tahukah kalian mengapa aku memilih Vivekananda?”. Tidak satu pun murid yang berani menjawab pertanyaan itu.
“Apakah karena dia tampan? … atau mungkin karena dia rajin? … atau mungkin karena dia pandai?” Tetap semuanya terdiam. Vivekananda pun hanya terdiam dan duduk dengan tenang bersama murid-murid yang lain. Kemudian suasana menjadi hening untuk beberapa saat dan tiba-tiba Rama Krishna terbatuk. Murid-murid nya yang mencari muka dihadapannya pun menunjukkan rasa sayang dan perhatian kepada dia. Mereka berusaha untuk memijat kaki, tangan dan badan sang pertapa tersebut. Akan tetapi Rama Krishna tidak mempedulikan perhatian mereka, kemudian Dia meludah ke tanah membuang reak yang terkumpul di mulutnya akibat batuk tersebut. “Oeggghhhhhhh…………. Cueh…” begitulah kira-kira suaranya. Setelah itu dia menunjuk kepada Vivekananda. “Makanlah itu!” perintahnya sambil menunjuk kepada reak yang telah dibuang melalui mulutnya. Tanpa pikir panjang, Vivekananda menuruti perintahnya seketika itu juga. Kemudian Rama Krishna berdiri dan berkata “Itulah alasanku memilih Vivekananda!”. Tanpa kata-kata Dia pun pergi meninggalkan kerumunan muridnya.
Note: Cerita ini mengandung esensi mendalam mengenai panteisme, yaitu suatu paham ketuhanan yang memandang bahwa Tuhan yang tunggal termanifestasi dalam ciptaannya yang majemuk. Dalam cerita, Rama Krishna adalah orang yang telah mengerti benar dan merasakan kehadiran Tuhan di dalam dirinya, begitu pun Vivekananda. Karena itu sebenarnya mereka telah merasakan satu di dalam manifestasi yang majemuk. Rama Krishna adalah Vivekananda adalah Tuhan yang Tunggal dan Vivekananda adalah Rama Krsihna Adalah juga Tuhan yang Tunggal.Karena itu pertanyaan “Apakah salah untuk menelan reak sendiri yang sebenarnya merupakan bagian yang sama dari diri sesungguhnya?” memiliki arah yang sama dengan “Apakah salah untuk memukul diri sendiri?”
25 TAHUN SUDAH
Lelah mungkin yang dirasakan jiwaku setelah 25 tahun perjalanan hidup akhirnya aku sempat berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri “Ke manakah aku akan meneruskan perjalanan berikutnya?”.
25 Tahun perjalanan yang di-isi duri-duri dan harumnya mawar kehidupan membawaku kepada perubahan-perubahan dalam segi pemikiran, kepribadian dan pengasahan sisi-sisi spiritualku. Tidak ada patokan yang jelas apakah perubahan itu membawa dampak perbaikan. Karena memang tidak pernah ada rambu-rambu di dalam perjalanan kehidupan ini.
Aku memang dilahirkan pada suatu kondisi yang cukup ideal, walau terdapat cacat-cacat yang hinggap pada sisi-sisi dimensi jiwaku. Tapi di dalam perjalanan ini, sampai detik ini aku tidak pernah tahu bahwa selama 25 tahun ini, apakah yang aku lakukan semata memperbaiki cacat-cacat itu atau justru menambah cacat-cacat baru atau mungkin hanya memperbaiki cacat satu dan membuat cacat yang lain.
Mungkin juga sebenarnya tidak pernah ada cacat, karena kehidupan telah sempurna di dalam dirinya. Hanya kita manusia yang selalu memiliki penilaian sendiri yang dapat melihat cacat itu. Tapi apakah kehidupan melihat cacat itu?
25 Tahun perjalanan yang di-isi duri-duri dan harumnya mawar kehidupan membawaku kepada perubahan-perubahan dalam segi pemikiran, kepribadian dan pengasahan sisi-sisi spiritualku. Tidak ada patokan yang jelas apakah perubahan itu membawa dampak perbaikan. Karena memang tidak pernah ada rambu-rambu di dalam perjalanan kehidupan ini.
Aku memang dilahirkan pada suatu kondisi yang cukup ideal, walau terdapat cacat-cacat yang hinggap pada sisi-sisi dimensi jiwaku. Tapi di dalam perjalanan ini, sampai detik ini aku tidak pernah tahu bahwa selama 25 tahun ini, apakah yang aku lakukan semata memperbaiki cacat-cacat itu atau justru menambah cacat-cacat baru atau mungkin hanya memperbaiki cacat satu dan membuat cacat yang lain.
Mungkin juga sebenarnya tidak pernah ada cacat, karena kehidupan telah sempurna di dalam dirinya. Hanya kita manusia yang selalu memiliki penilaian sendiri yang dapat melihat cacat itu. Tapi apakah kehidupan melihat cacat itu?
Rabu, November 24, 2004
Suatu Hari
Suatu hari Tuhan datang kepada hambanya yang rajin berdoa. Lalu Dia berkatakepada hambanya yang setiap hari khusuk memanjatkan pujian dan penyembahan "Hai hamba yang setia, apakah keinginan Mu?". Mendengar suara tersebut,hamba tersebut kaget lalu pingsan dan tak sadarkan diri melihat penampakan Tuhan untuk pertama kalinya. Kemudian Tuhan pergi masuk ke dalam mimpinyauntuk menemuinya. Di dalam mimpi Dia tanyakan lagi "Apakah keinginanmu?".Hamba tersebut hanya terdiam, rupanya dia malu untuk meminta secara langsung.Kemudian perlahan-lahan kata demi kata keluar "Anu Tuan, hamba hanya ingin...hmmmmm hamba hanya ingin...". "Cepat katakan! Aku tak punya waktu untukmendengar basa basimu". "Hmmmm, hamba hanya ingin engkau lepaskan aku darikewajiban beribadah dan ritual setiap hari yang menjemukan ini" "Ahhh dasarmanusia, aku selalu disalahkan atas setiap ritual dan ibadah yang tidakpernah mereka jalankan dengan ikhlas. Baiklah kalau begitu, tapi ingat,aku tak pernah memaksa kalian untuk melakukan itu, ini pasti kesalahanutusan-utusanku."
Kemudian Tuhan kembali ke tempatnya. Lalu Dia memanggil utusan-utusannya.Dia berkata "bodoh kalian!" "Ya Tuanku, Hamba memang bodoh",jawab mereka."Ingat , pernahkah aku memaksakan umatku untuk beribadah?" "Tidak Tuanku.""Pernahkah aku meminta kepada mereka untuk disembah?""Tidak Tuanku""Aku tak pernah sekalipun meminta disembah, meminta dipuji oleh umatku. kaliantahu kenapa?""Tidak Tuanku""Kalian bodoh. Alasannya adalah karena Aku telah lengkap di dalam diriku, Aku yang maha sempurna tidak memerlukan apa-apa lagi.""Bukankah tuan membutuhkan mereka untuk dicintai?""Karena itu aku membebaskan mereka, pendosa atau pendeta tiada bedanya bagi ku.""Lalu, apakah yang mesti Kami lakukan?""Rombaklah apa yang telah kalian ajarkan di dunia ini.""Tapi itu tidak mungkin Tuanku. Manusia sulit untuk berubah. Apa yang telah me-reka percayai sejak lama, bagi mereka adalah kebenaran walaupun itu hal yang salah.""Di manakah keimanan kalian?" dengan nada marah."Maaf tuanku.""Baiklah, kalian yang bodoh-bodoh ini kupecat sebagai utusan.""Jangan tuanku, kami tetap ingin menjadi utusanmu.""Apakah dengan menjadi utusanku, kalian menjadi lebih tinggi derajadnya dari padamanusia lain?""Tidak Tuanku, hamba mohon maaf.""Lalu apa yang kalian inginkan dengan menjadi utusanku?""Hamba tidak berani Tuan, mohon ampun.""Baiklah kalau begitu, kalian tetap menjadi utusanku dengan satu syarat.""Apa itu tuanku?""Kunjungilah seorang petani yang memiliki iman tertinggi di desa A. Kemudian laporkanapa yang dia katakan kepadamu."
Kemudian pergilah mereka ke desa A. Suatu desa yang harmonis dan penuh keceriaan.Akhirnya bertemu lah mereka dengan sang petani yang sedang tidur."Apakah anda seorang petani yang dimaksud Tuanku?"Petani tersebut hanya terlelap dalam kantuknya."Apakah anda seorang manusia yang memiliki iman tertinggi?"Petani tersebut tetap terlelap. Saking kesalnya para utusan tersebut membangunkandia dengan paksa. Terbangunlah petani tersebut, kemudian sambil mengucek matanyadia perhatikan satu persatu utusan-utusan tersebut. Kemudian dia berkata dengan ceria"Hei, sepertinya aku mengenali kalian.""Tidak mungkin, anda baru pertama kali bertemu dengan kami.""Benarkah?" tanya sang petani."Benar! Tidak mungkin salah."Dengan tersenyum sang petani berkata "Hmmm, aku ingat, aku pernah memarahi kalianbeberapa hari yang lalu, tidakkah kalian mengenaliku?""Ampun Tuanku..." langsung para utusan tersebut sujud ketakutan. Mereka melihatmata Tuhan di dalam mata petani tersebut. Mereka melihat Tuhan di dalam hati petani tersebut."Baiklah kalau begitu, kalian memang tidak pernah memiliki iman yang sempurna, selalusaja ada kekurangannya. Padahal kalian adalah utusanku. Untuk itu, Kalian tahu apa yang mesti dilakukan?""Tidak Tuanku. Hamba mohon ampun.""Cintailah aku di dalam hati mu, agar aku nyaman tinggal di dalam hati mu senyamanaku tinggal di dalam hati petani ini. Sebenarnya, aku hanya ingin kalian mengajarkantentang masalah ini kepada umatku. Maka tak perlu kalian paksa dengan segala cara, mereka akan beribadah karena mereka rindu kepada Ku."
Kemudian Tuhan kembali ke tempatnya. Lalu Dia memanggil utusan-utusannya.Dia berkata "bodoh kalian!" "Ya Tuanku, Hamba memang bodoh",jawab mereka."Ingat , pernahkah aku memaksakan umatku untuk beribadah?" "Tidak Tuanku.""Pernahkah aku meminta kepada mereka untuk disembah?""Tidak Tuanku""Aku tak pernah sekalipun meminta disembah, meminta dipuji oleh umatku. kaliantahu kenapa?""Tidak Tuanku""Kalian bodoh. Alasannya adalah karena Aku telah lengkap di dalam diriku, Aku yang maha sempurna tidak memerlukan apa-apa lagi.""Bukankah tuan membutuhkan mereka untuk dicintai?""Karena itu aku membebaskan mereka, pendosa atau pendeta tiada bedanya bagi ku.""Lalu, apakah yang mesti Kami lakukan?""Rombaklah apa yang telah kalian ajarkan di dunia ini.""Tapi itu tidak mungkin Tuanku. Manusia sulit untuk berubah. Apa yang telah me-reka percayai sejak lama, bagi mereka adalah kebenaran walaupun itu hal yang salah.""Di manakah keimanan kalian?" dengan nada marah."Maaf tuanku.""Baiklah, kalian yang bodoh-bodoh ini kupecat sebagai utusan.""Jangan tuanku, kami tetap ingin menjadi utusanmu.""Apakah dengan menjadi utusanku, kalian menjadi lebih tinggi derajadnya dari padamanusia lain?""Tidak Tuanku, hamba mohon maaf.""Lalu apa yang kalian inginkan dengan menjadi utusanku?""Hamba tidak berani Tuan, mohon ampun.""Baiklah kalau begitu, kalian tetap menjadi utusanku dengan satu syarat.""Apa itu tuanku?""Kunjungilah seorang petani yang memiliki iman tertinggi di desa A. Kemudian laporkanapa yang dia katakan kepadamu."
Kemudian pergilah mereka ke desa A. Suatu desa yang harmonis dan penuh keceriaan.Akhirnya bertemu lah mereka dengan sang petani yang sedang tidur."Apakah anda seorang petani yang dimaksud Tuanku?"Petani tersebut hanya terlelap dalam kantuknya."Apakah anda seorang manusia yang memiliki iman tertinggi?"Petani tersebut tetap terlelap. Saking kesalnya para utusan tersebut membangunkandia dengan paksa. Terbangunlah petani tersebut, kemudian sambil mengucek matanyadia perhatikan satu persatu utusan-utusan tersebut. Kemudian dia berkata dengan ceria"Hei, sepertinya aku mengenali kalian.""Tidak mungkin, anda baru pertama kali bertemu dengan kami.""Benarkah?" tanya sang petani."Benar! Tidak mungkin salah."Dengan tersenyum sang petani berkata "Hmmm, aku ingat, aku pernah memarahi kalianbeberapa hari yang lalu, tidakkah kalian mengenaliku?""Ampun Tuanku..." langsung para utusan tersebut sujud ketakutan. Mereka melihatmata Tuhan di dalam mata petani tersebut. Mereka melihat Tuhan di dalam hati petani tersebut."Baiklah kalau begitu, kalian memang tidak pernah memiliki iman yang sempurna, selalusaja ada kekurangannya. Padahal kalian adalah utusanku. Untuk itu, Kalian tahu apa yang mesti dilakukan?""Tidak Tuanku. Hamba mohon ampun.""Cintailah aku di dalam hati mu, agar aku nyaman tinggal di dalam hati mu senyamanaku tinggal di dalam hati petani ini. Sebenarnya, aku hanya ingin kalian mengajarkantentang masalah ini kepada umatku. Maka tak perlu kalian paksa dengan segala cara, mereka akan beribadah karena mereka rindu kepada Ku."
Isnin, Oktober 25, 2004
Boomer
Di masa itu keluarga kami sedang dalam keadaan yang sangat sulit. Tapi kebahagiaan tetap ada di antara kami didukung oleh solidaritas antara anggota keluarga. Boomer lahir di rumah tetanggaku. Kala itu aku berumur sekitar 4 tahun. Kami satu keluarga sangat senang dengan kedatangan anggota keluarga ke 10 tersebut. Khususnya aku yang akhirnya memiliki teman sebaya di dalam keluarga. Boomer terlahir sebagai anjing kelas atas. Bulunya bagus dan sangat lucu penampakannya. Kelemahannya hanya satu, bahwa dia sangat tidak suka diganggu ketika makan. Jika sedang makan, dia seperti singa. Jika sedang tidur dia seperti domba. Jika sedang bercanda dia seperti kera.
Boomer tumbuh dewasa bersamaku. Kami minum produk susu yang sama setiap hari, dia sangat lincah dan pandai. Kakak-kakakku gemar sekali melatihnya menjadi anjing yang pintar. Aku dan Boomer bagai saudara kembar. Kadang kami tidur bersama, dan aku bercanda dengan dia bak anak dengan anak. Kadang-kadang jika dia menggigitku, aku pun membalas menggigitnya. Seiring bertambah dewasanya Boomer, Ayahku mendapat pekerjaan. Kebetulan sekali ayahku mendapat kepercayaan untuk menangani sebuah pabrik kertas yang baru lahir. Seperti kata orang-orang, sepertinya benar bahwa Boomer memang membawa rezeki bagi keluarga kami. Akhirnya boomer pun dibawa oleh ayahku untuk menemani ayahku di pabrik tersebut. Aku sedih sekali sebenarnya dengan keputusan ayahku. Tapi apa boleh buat, ayahku di sana hanya bersama beberapa orang pegawai. Siapa lagi yang dapat melindungi ayahku jika terjadi kejadian yang membahayakan dirinya.
Lambat laun aku mulai terbiasa dengan ketidakhadiran Boomer. Sesekali aku mengunjunginya. Rupanya Boomer telah menjadi bapak sekarang. Dia mengawini anjing kampung di pabrik tersebut. Anjing tersebut bernama Merry. Lambat laun keturunan Boomer mengisi koloni anjing penjaga pabrik. Beberapa di antaranya Cuplis, Brino dan Putih yang kami adopsi untuk dijadikan anggota keluarga. Boomer selalu menjadi pemimpin di koloni tersebut. Tidak ada satu anjing pun yang berani untuk merebut posisinya. Makin tua makin menjadi. Selalu ada perkelahian di dalam kehidupan Boomer, tetapi dia selalu keluar menjadi pemenangnya. Boomer hanya takut kepada satu anjing yang aku tahu, yaitu Merry. Entah kenapa atau mungkinkah Boomer memiliki rasa cinta kepada Merry aku tidak tahu, tapi yang pasti Boomer tidak pernah berani melawan Merry.
Yang paling aku senang ketika mengunjunginya, dia selalu menyambutku dengan gembira. Ekornya yang panjang dengan bulu tebalnya yang berwarna hitam putih bergoyang ke kanan – ke kiri menandakan bahwa dia rindu kepadaku. Ketika sampai di sana aku sempat kaget bahwa dia telah bisa mengerti beberapa perintah. Seperti membuka pintu, dia telah mempelajarinya dengan baik asalkan saja pintu tersebut sering diminyaki engselnya dan dia membuka dari sisi luar karena dia tidak mempunyai kekuatan mendorong kecuali dengan membebankan dirinya pada pintu. Dia juga mengerti perintah untuk duduk , berdiri , berguling dan melompat.
Hal yang paling kutangisi adalah masa tua Boomer. Di masa tuanya dia menjadi anjing yang sakit-sakitan, dia sudah tidak bisa mengelak lagi dari grogotan usia. Akhirnya anjing kesayangan ku tersebut pun mati tanpa ada yang datang pada saat pemakamannya kecuali ayahku dan beberapa anjing-anjing lainnya. Mendengar berita itu, aku kemudian datang dan menjenguk kuburannya. Di sana aku panjatkan doa semoga Boomer masuk sorga. (waktu itu aku masih percaya adanya sorga dan neraka). Koloni anjing pabrik pun mulai berkurang jumlahnya. Tidak ada lagi pemimpin yang cocok di dalam koloni tersebut. Sehingga satu per satu hilang dan 20 tahun kemudian, aku sudah tidak menemukan lagi koloni anjing di sana. Kenangan indah Boomer selalu diingat keluargaku. Sangat sulit untuk melupakan arti hadirnya Boomer di dalam hidupku dan keluarga. Sampai aku tua kemudian mati, Boomer akan selalu terkenang di dalam hidupku. Sahabat kecil yang sejati.
Boomer tumbuh dewasa bersamaku. Kami minum produk susu yang sama setiap hari, dia sangat lincah dan pandai. Kakak-kakakku gemar sekali melatihnya menjadi anjing yang pintar. Aku dan Boomer bagai saudara kembar. Kadang kami tidur bersama, dan aku bercanda dengan dia bak anak dengan anak. Kadang-kadang jika dia menggigitku, aku pun membalas menggigitnya. Seiring bertambah dewasanya Boomer, Ayahku mendapat pekerjaan. Kebetulan sekali ayahku mendapat kepercayaan untuk menangani sebuah pabrik kertas yang baru lahir. Seperti kata orang-orang, sepertinya benar bahwa Boomer memang membawa rezeki bagi keluarga kami. Akhirnya boomer pun dibawa oleh ayahku untuk menemani ayahku di pabrik tersebut. Aku sedih sekali sebenarnya dengan keputusan ayahku. Tapi apa boleh buat, ayahku di sana hanya bersama beberapa orang pegawai. Siapa lagi yang dapat melindungi ayahku jika terjadi kejadian yang membahayakan dirinya.
Lambat laun aku mulai terbiasa dengan ketidakhadiran Boomer. Sesekali aku mengunjunginya. Rupanya Boomer telah menjadi bapak sekarang. Dia mengawini anjing kampung di pabrik tersebut. Anjing tersebut bernama Merry. Lambat laun keturunan Boomer mengisi koloni anjing penjaga pabrik. Beberapa di antaranya Cuplis, Brino dan Putih yang kami adopsi untuk dijadikan anggota keluarga. Boomer selalu menjadi pemimpin di koloni tersebut. Tidak ada satu anjing pun yang berani untuk merebut posisinya. Makin tua makin menjadi. Selalu ada perkelahian di dalam kehidupan Boomer, tetapi dia selalu keluar menjadi pemenangnya. Boomer hanya takut kepada satu anjing yang aku tahu, yaitu Merry. Entah kenapa atau mungkinkah Boomer memiliki rasa cinta kepada Merry aku tidak tahu, tapi yang pasti Boomer tidak pernah berani melawan Merry.
Yang paling aku senang ketika mengunjunginya, dia selalu menyambutku dengan gembira. Ekornya yang panjang dengan bulu tebalnya yang berwarna hitam putih bergoyang ke kanan – ke kiri menandakan bahwa dia rindu kepadaku. Ketika sampai di sana aku sempat kaget bahwa dia telah bisa mengerti beberapa perintah. Seperti membuka pintu, dia telah mempelajarinya dengan baik asalkan saja pintu tersebut sering diminyaki engselnya dan dia membuka dari sisi luar karena dia tidak mempunyai kekuatan mendorong kecuali dengan membebankan dirinya pada pintu. Dia juga mengerti perintah untuk duduk , berdiri , berguling dan melompat.
Hal yang paling kutangisi adalah masa tua Boomer. Di masa tuanya dia menjadi anjing yang sakit-sakitan, dia sudah tidak bisa mengelak lagi dari grogotan usia. Akhirnya anjing kesayangan ku tersebut pun mati tanpa ada yang datang pada saat pemakamannya kecuali ayahku dan beberapa anjing-anjing lainnya. Mendengar berita itu, aku kemudian datang dan menjenguk kuburannya. Di sana aku panjatkan doa semoga Boomer masuk sorga. (waktu itu aku masih percaya adanya sorga dan neraka). Koloni anjing pabrik pun mulai berkurang jumlahnya. Tidak ada lagi pemimpin yang cocok di dalam koloni tersebut. Sehingga satu per satu hilang dan 20 tahun kemudian, aku sudah tidak menemukan lagi koloni anjing di sana. Kenangan indah Boomer selalu diingat keluargaku. Sangat sulit untuk melupakan arti hadirnya Boomer di dalam hidupku dan keluarga. Sampai aku tua kemudian mati, Boomer akan selalu terkenang di dalam hidupku. Sahabat kecil yang sejati.
Isnin, Oktober 04, 2004
Reality Show
Kebanyakan manusia normal menyadari bahwa mereka sedikit gila atau agak gila atau memang benar-benar gila. Sebagian dari mereka menikmati untuk menjadi gila dan bangga akan hal itu. Kegilaan adalah salah satu bentuk ekspresi dan aktualisasi diri. Saya merupakan bagian dari orang-orang seperti itu, dan saya menyadari bahwa hanya ada garis tipis yang memisahkan antara gila dan normal.
Biasanya kegilaan itu bersifat temporer dan hanya menyangkut hal-hal spesifik yang berkaitan dengan kekosongan dan kehampaan di dalam hidup. Ada orang-orang yang gila uang karena ketakutan akan kemiskinan. Ada juga orang-orang yang gila kenikmatan karena dendam tidak dapat menikmati hal-hal yang menurutnya dapat memuaskan dan memberikan kebahagiaan di masa lalu. Ada pula orang-orang yang gila karena mereka merasa normal.
Dua sisi gila dan normal seperti dua mata uang yang tak pernah dapat dipisahkan. Jika kita hanya berada di salah satu sisi, maka kita akan menjadi normal dan tidak tahu definisi gila atau kita akan menjadi gila tanpa tahu apakah itu normal. Tapi apabila kita dapat berada di dua sisi mata uang tersebut, barulah kita menyadari bahwa tidak ada yang gila maupun normal yang ada hanyalah kenyataan. Seperti kita menyadari bahwa tidak ada sisi wayang atau sisi rumah pada mata uang, melainkan hanya mata uang tersebut.
Hidup ini memang menyedihkan, hanya saja kebanyakan orang menyangkalnya. Ada orang-orang yang menganggap hidup ini indah, tapi saya rasa itu hanyalah penyangkalan terhadap kesedihan mereka yang mendalam. Semua manusia sadar bahwa hidup memang menyedihkan dan mereka mencari cara untuk menghapus kesedihan dan penderitaan tersebut dari dalam jiwanya. Beberapa ekstrim berlaku untuk menikmati penderitaan dan kesedihan itu. Sangat bertentangan dengan manusia pada umumnya yang berusaha menyangkalnya. Kedua ekstrim itu tidak akan membawa kita kepada kesembuhan mental, melainkan hanya membawa kita jauh dari kebahagiaan yang kita cari tersebut. Di manakah letak kebahagiaan itu, tidak seorang pun tahu, karena memang kebahagiaan itu tak pernah ada. Dan ketika kesadaran kita tentang kebahagiaan tidak ada, maka kesedihan dan penderitaan pun lenyap.
Manusia selalu berandai-andai “jika saya di dalam kondisi A, maka saya akan bahagia”, “jika saya di dalam kondisi B, maka saya akan menderita”. Mereka selalu berkhayal untuk bahagia, dan bersikap menjauhi hal-hal yang menurut mereka membuat penderitaan. Sakit hati, penderitaan adalah penyakit umum. Sama seperti penyakit flu, tidak bisa dihindari dan disembuhkan, hanya bisa dihilangkan rasa sakitnya dengan menipu diri sendiri. Dan semuanya menyukai obat penipuan, terus berlari ke sana kemari mencari obat baru untuk penyakit mentalnya.
Sumber dari rasa sakit dan penderitaan tersebut tidak ada yang tahu sampai mereka sadar bahwa sumber penderitaan itu adalah kesadaran semu bahwa kita hidup. Itulah kenyataan pahit yang harus kita terima pada saat dilahirkan, kesadaran semu bahwa kita hidup dan eksis. Seperti seorang manusia yang diceburkan ke dalam samudera luas dan terus berenang untuk mempertahankan kepalanya di atas permukaan air agar dapat bernapas, tanpa tahu ke arah mana mereka harus berenang dan menemukan daratan yang dapat membuat mereka bebas bernapas dan berteriak “I’m Alive”. Seperti itulah kita semua, mayat-mayat yang menunggu untuk dibangunkan dan hidup kembali.
Biasanya kegilaan itu bersifat temporer dan hanya menyangkut hal-hal spesifik yang berkaitan dengan kekosongan dan kehampaan di dalam hidup. Ada orang-orang yang gila uang karena ketakutan akan kemiskinan. Ada juga orang-orang yang gila kenikmatan karena dendam tidak dapat menikmati hal-hal yang menurutnya dapat memuaskan dan memberikan kebahagiaan di masa lalu. Ada pula orang-orang yang gila karena mereka merasa normal.
Dua sisi gila dan normal seperti dua mata uang yang tak pernah dapat dipisahkan. Jika kita hanya berada di salah satu sisi, maka kita akan menjadi normal dan tidak tahu definisi gila atau kita akan menjadi gila tanpa tahu apakah itu normal. Tapi apabila kita dapat berada di dua sisi mata uang tersebut, barulah kita menyadari bahwa tidak ada yang gila maupun normal yang ada hanyalah kenyataan. Seperti kita menyadari bahwa tidak ada sisi wayang atau sisi rumah pada mata uang, melainkan hanya mata uang tersebut.
Hidup ini memang menyedihkan, hanya saja kebanyakan orang menyangkalnya. Ada orang-orang yang menganggap hidup ini indah, tapi saya rasa itu hanyalah penyangkalan terhadap kesedihan mereka yang mendalam. Semua manusia sadar bahwa hidup memang menyedihkan dan mereka mencari cara untuk menghapus kesedihan dan penderitaan tersebut dari dalam jiwanya. Beberapa ekstrim berlaku untuk menikmati penderitaan dan kesedihan itu. Sangat bertentangan dengan manusia pada umumnya yang berusaha menyangkalnya. Kedua ekstrim itu tidak akan membawa kita kepada kesembuhan mental, melainkan hanya membawa kita jauh dari kebahagiaan yang kita cari tersebut. Di manakah letak kebahagiaan itu, tidak seorang pun tahu, karena memang kebahagiaan itu tak pernah ada. Dan ketika kesadaran kita tentang kebahagiaan tidak ada, maka kesedihan dan penderitaan pun lenyap.
Manusia selalu berandai-andai “jika saya di dalam kondisi A, maka saya akan bahagia”, “jika saya di dalam kondisi B, maka saya akan menderita”. Mereka selalu berkhayal untuk bahagia, dan bersikap menjauhi hal-hal yang menurut mereka membuat penderitaan. Sakit hati, penderitaan adalah penyakit umum. Sama seperti penyakit flu, tidak bisa dihindari dan disembuhkan, hanya bisa dihilangkan rasa sakitnya dengan menipu diri sendiri. Dan semuanya menyukai obat penipuan, terus berlari ke sana kemari mencari obat baru untuk penyakit mentalnya.
Sumber dari rasa sakit dan penderitaan tersebut tidak ada yang tahu sampai mereka sadar bahwa sumber penderitaan itu adalah kesadaran semu bahwa kita hidup. Itulah kenyataan pahit yang harus kita terima pada saat dilahirkan, kesadaran semu bahwa kita hidup dan eksis. Seperti seorang manusia yang diceburkan ke dalam samudera luas dan terus berenang untuk mempertahankan kepalanya di atas permukaan air agar dapat bernapas, tanpa tahu ke arah mana mereka harus berenang dan menemukan daratan yang dapat membuat mereka bebas bernapas dan berteriak “I’m Alive”. Seperti itulah kita semua, mayat-mayat yang menunggu untuk dibangunkan dan hidup kembali.
Langgan:
Catatan (Atom)